Pezeshkian: Iran siap berdialog, tetapi tak bisa dipaksa menyerah

Foto dokumentasi ini menunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sedang menyampaikan pidato di Teheran, Iran, pada 11 Februari 2026. (Xinhua/Shadati)

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali komitmen negaranya untuk menempuh jalur dialog demi melindungi hak-haknya, seraya menekankan bahwa Teheran tidak dapat dipaksa untuk menyerah.

Pezeshkian menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara yang dirilis di situs jejaring resmi kepresidenan Iran pada Jumat (7/8). Dia membela keputusan pemerintah Iran untuk berunding dengan Amerika Serikat (AS) dan menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait penghentian perang.

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada kewajibannya selama AS juga memenuhi komitmennya dalam MoU tersebut.

"Jika mereka gagal memenuhi komitmennya, kami pun tidak memiliki kewajiban untuk melanjutkannya," ujar Pezeshkian.

Sebelumnya pada pekan ini, Pezeshkian membantah bahwa dirinya akan mundur dari jabatan. Dia menegaskan akan "melanjutkan tugasnya dengan tegas." Pernyataan itu disampaikan di tengah beredarnya isu "perpecahan" dalam kepemimpinan Iran terkait MoU.

Pada Juni lalu, Iran dan AS menandatangani MoU yang menyatakan kedua pihak akan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari guna mencapai kesepakatan final. Kendati demikian, ketegangan yang kembali memuncak di antara kedua pihak kini membuat nasib perundingan tersebut menjadi tidak pasti.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait