Studi: Milenial dan Gen Z terbuka dan kritis tapi percayai mitos dan takhayul

Ilustrasi. Generasi milenial dan Gen Z yang lahir pada era teknologi, tumbuh dengan kecenderungan untuk mencari informasi dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan. Kemudahan akses untuk memperoleh informasi dan sumber-sumber ilmu pengetahuan adalah modal yang sangat besar untuk mereka dalam meningkatkan intelektualitas, serta memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. (Marvin Meyer on Unsplash)

Milenial dan Gen Z memiliki sikap kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi dalam mengakses sebuah informasi, namun tetap memercayai mitos dan takhayul.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Studi baru-baru ini oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kaum milenial dan generasi Gen Z memiliki sikap kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi dalam mengakses sebuah informasi.

Menariknya, terlepas dari skor budaya ilmiah yang tergolong tinggi, kelompok ini tetap memercayai mitos dan takhayul, tunjuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN bersama perusahaan penyedia layanan consumer insights, Populix.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH), Ahmad Najib Burhani, menerangkan bahwa penelitian itu dilakukan untuk mengidentifikasi lima elemen dalam mengenali budaya ilmiah, yakni terbuka (openness), ingin tahu (curiosity), kritis (critical thinking), sikap terhadap sains (attitude toward science), dan takhayul, menurut siaran pres yang dikutip dari situs jejaring BRIN di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, kelima elemen tersebut sangat relevan dengan riset yang dikembangkan di BRIN karena budaya ilmiah akan mengukur penghargaan seseorang yang memiliki keterbukaan terhadap kritik, pemikiran kritis, penghargaan terhadap waktu, berkegiatan secara produktif, dan sebagainya.

Budaya ilmiah (scientific culture) diartikan sebagai pola pikir atau tata cara hidup sehari-hari yang menghargai dan mempromosikan sains dan ilmu pengetahuan. Seseorang yang memiliki budaya ilmiah mendapatkan pemahaman dan pengetahuan dari pengamatan, penelitian, dan pemikiran kritis. Dalam budaya ilmiah, kebenaran tidak didapatkan melalui keyakinan, kepercayaan atau mitos, tetapi melalui kegiatan ilmiah, metode ilmiah dan pengujian empiris (Jegede, 1997).

Generasi milenial dan Gen Z yang lahir pada era teknologi, tumbuh dengan kecenderungan untuk mencari informasi dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan. Kemudahan akses untuk memperoleh informasi dan sumber-sumber ilmu pengetahuan adalah modal yang sangat besar untuk mereka dalam meningkatkan intelektualitas, serta memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun saat ini perubahan global dan dampaknya terhadap aspek ekonomi, politik, sosial, dan bidang-bidang lain disertai dengan perkembangan telekomunikasi, komunikasi, dan digital, mempengaruhi setiap orang, termasuk generasi ini.

Penelitian ini menyurvei 1.038 responden berusia 18-43 tahun dengan pendidikan minimal sekolah menengah atas di wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Survei ini dilakukan secara online dengan menggunakan platform aplikasi Populix selama 11 Juli hingga 1 Agustus 2023.

Sementara itu, Kepala Penelitian Sosial Populix, Vivi Zabkie, berharap temuan tersebut dapat menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan dan perencanaan yang lebih tepat saat berhadapan dengan para milenial dan Gen-z.

“Sekaligus membuka pintu bagi riset-riset lanjutan untuk menyelami unsur-unsur budaya ilmiah di kalangan kedua generasi ini secara lebih mendalam,” imbuhnya.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan