
Mikrogravitasi bisa bantu pengembangan obat, China siapkan laboratorium di antariksa

Roket pengangkut Lijian-1 Y15 yang membawa lima satelit lepas landas dari zona percontohan inovasi antariksa komersial Dongfeng di Tiongkok barat laut pada 24 Juli 2026. (Xinhua/Wang Jiangbo)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Perusahaan roket komersial China, CAS Space, mengumumkan bahwa pihaknya menjalin kerja sama dengan Laboratorium Guangzhou (Guangzhou Laboratory) untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan kolaboratif terkait muatan (payload) farmasi luar angkasa, dengan rencana validasi penerbangan suborbital menggunakan wahana antariksa yang dapat digunakan kembali (reusable) pada 2027 mendatang.
Kelompok muatan pertama direncanakan terbang menggunakan Lihong-2, wahana peluncur reusable milik perusahaan tersebut. Kelompok muatan itu akan melakukan eksperimen kristalisasi protein dan obat molekul kecil, serta validasi teknis awal peralatan farmasi luar angkasa, ungkap CAS Space.
Berbasis di Guangzhou, laboratorium tersebut berfokus mempelajari penyakit pernapasan serta pencegahan dan pengendaliannya. Berdasarkan kolaborasi tersebut, laboratorium itu akan merumuskan pertanyaan ilmiah seputar kristalisasi obat dan menangani rancangan eksperimen, pengelolaan sampel, eksperimen kontrol di darat, dan analisis hasil.
Menurut Xu Qiang, peneliti utama di laboratorium tersebut, kedokteran modern memiliki kebutuhan besar akan data struktural berkualitas lebih tinggi, bentuk kristal obat yang lebih stabil, model penyakit yang lebih menyerupai tubuh manusia, serta alat skrining yang lebih efisien. Lingkungan luar angkasa dapat menawarkan cara-cara baru untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Lingkungan mikrogravitasi luar angkasa dapat membantu sejumlah protein membentuk kristal berkualitas lebih tinggi dan menawarkan kondisi eksperimen baru untuk skrining bentuk kristal dan pengendalian partikel obat molekul kecil.
Sel-sel dalam kondisi tersebut juga lebih mudah membentuk agregat tiga dimensi (3D) yang dapat digunakan untuk meneliti mekanisme penyakit dan respons obat, papar Xu.
Perusahaan itu menyampaikan wahana antariksa seri Lihong dirancang untuk penelitian kedokteran luar angkasa, eksperimen biomedis, manufaktur, dan pariwisata luar angkasa.
Pada Januari tahun ini, roket Lihong-1 milik perusahaan itu berhasil merampungkan misi uji penerbangan suborbitalnya di China barat laut.
"Wilayah antariksa dekat pada ketinggian 100 hingga 200 kilometer merupakan lingkungan eksperimen yang ideal bagi penelitian mikrogravitasi seperti manufaktur luar angkasa dan biomedis," ujar Wakil Presiden CAS Space Fan Na.
Berdasarkan konsep tersebut, perusahaan itu telah mendirikan laboratorium kedokteran luar angkasa bersama dengan sebuah rumah sakit.
"Laboratorium ini dapat membawa pulang data dengan cepat, sehingga mempercepat pengembangan obat baru," imbuh Fan.
Farmasi luar angkasa merupakan sektor yang sedang berkembang (emerging) dalam ekonomi luar angkasa, bersama dengan pemuliaan luar angkasa, pemrosesan material luar angkasa, internet satelit, serta pariwisata luar angkasa.
Sebuah laporan Forum Ekonomi Dunia memaparkan nilai ekonomi luar angkasa diperkirakan tumbuh dari 630 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 1,8 triliun dolar AS pada 2035.
*1 dolar AS = 17.877 rupiah
Goldman Sachs dan sejumlah institusi lainnya memprediksi nilai ekonomi luar angkasa akan meningkat menjadi beberapa triliun dolar AS dalam 20 tahun ke depan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kota Zhuzhou di China luncurkan lini produksi pintar untuk satelit komersial
Indonesia
•
26 Oct 2024

Peneliti identifikasi 275 juta varian genetik baru
Indonesia
•
21 Feb 2024

Dataran banjir Sungai Kuning kembali hidup berkat restorasi ekologis
Indonesia
•
05 Jun 2023

Aplikasi Threads Meta luncurkan fitur-fitur baru
Indonesia
•
18 Aug 2024


Berita Terbaru

Anak yang lebih bugar berpotensi lebih rendah alami depresi saat dewasa
Indonesia
•
02 Oct 2026

OpenAI batalkan peluncuran model karena kekhawatiran keamanan, regulator AS turun tangan
Indonesia
•
01 Oct 2026

Gletser Alpen menyusut drastis, 2.200 miliar liter air hilang dalam tiga bulan
Indonesia
•
01 Oct 2026

Bakteri berbahaya ini mampu bertahan dari disinfektan rumah sakit, ilmuwan temukan penyebabnya
Indonesia
•
30 Sep 2026
