Anak yang lebih bugar berpotensi lebih rendah alami depresi saat dewasa

Anak-anak bermain saat Festival Bulan Canberra 2025 di Canberra, Australia, pada 7 September 2025. (Xinhua/Chu Chen)

Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Anak-anak dan remaja dengan kebugaran kardiorespirasi yang lebih baik kemungkinan memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami depresi saat dewasa, demikian ungkap penelitian yang dipimpin oleh peneliti Australia.

Dengan menggunakan data dari studi ‘Childhood Determinants of Adult Health’, penelitian tersebut mengkaji kebugaran kardiorespirasi dan otot lebih dari 1.000 warga Australia berusia 7-15 tahun pada 1985, lalu dinilai kembali lebih dari tiga dekade kemudian saat mereka berusia 36-49 tahun, menurut pernyataan yang dirilis pada Kamis (1/10) oleh Universitas Tasmania (UTAS) Australia.

Penelitian tersebut menemukan bahwa kebugaran kardiorespirasi pada masa kanak-kanak, yakni kebugaran yang "terbentuk melalui aktivitas fisik yang membuat seseorang terengah-engah," menunjukkan hubungan yang paling kuat dan konsisten dengan risiko depresi yang lebih rendah saat dewasa. Hubungan itu juga tampak lebih kuat di kalangan perempuan.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders, tingkat kebugaran diukur melalui lari sejauh 1,6 km dan lompat jauh dari posisi berdiri, dengan beberapa partisipan juga menjalani tes bersepeda dan kekuatan genggaman tangan.

Lebih dari 30 tahun kemudian, mereka mengikuti wawancara diagnostik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengevaluasi riwayat depresi seumur hidup.

Penulis utama Kylie Smith dari Menzies Institute for Medical Research di UTAS menyebutkan temuan-temuan itu tidak menunjukkan bahwa tingkat kebugaran yang buruk pada masa kanak-kanak menyebabkan depresi saat dewasa, melainkan mengindikasikan bahwa kebugaran pada masa kanak-kanak dapat memberikan manfaat di luar kesehatan fisik.

"Kebugaran mungkin menjadi salah satu bagian dari teka-teki," dan depresi memiliki banyak faktor yang berkontribusi, ujar Smith, seraya menambahkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami jalur hubungan antara kebugaran pada masa kanak-kanak dan depresi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait