
Tim ilmuwan China berhasil rakit DNA manusia dan transfer antarspesies

Ilustrasi. (Warren Umoh on Unsplash)
Metode SynNICE mencakup perakitan DNA genom manusia sintetis di dalam ragi, kemudian mengekstrak nukleus ragi dengan kromosom utuh menggunakan teknik yang disebut NICE (Nucleus Isolation for Chromosomes Extraction).
Tianjin, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China berhasil mencapai terobosan signifikan di bidang biologi sintetis dengan menyintesis dan merakit DNA manusia skala besar secara berpresisi, serta sukses mentransfernya antarspesies.Pencapaian ini tidak hanya memajukan teknologi sintesis genom manusia tetapi juga membuka jalan baru untuk mengobati gangguan genetik, demikian menurut para peneliti.Studi yang dilakukan oleh laboratorium utama negara untuk biologi sintetis di Universitas Tianjin ini telah diterbitkan dalam jurnal internasional Nature Methods belum lama ini, dengan judul ‘De novo Assembly and Delivery of Synthetic Megabase-Scale Human DNA into Mouse Early Embryos.’Dipimpin oleh Yuan Yingjin, seorang akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), tim mengembangkan metode bernama SynNICE. Metode ini mencakup perakitan DNA genom manusia sintetis di dalam ragi, kemudian mengekstrak nukleus ragi dengan kromosom utuh menggunakan teknik yang disebut NICE (Nucleus Isolation for Chromosomes Extraction). Nukleus yang telah diekstraksi, yang membawa DNA sintetis, selanjutnya disuntikkan ke dalam embrio awal tikus.Para peneliti berkonsentrasi pada wilayah spesifik pada genom manusia yang dikenal sebagai AZFa, yang terletak pada kromosom Y. Wilayah ini sangat penting untuk kesuburan pria, dan penghapusan wilayah ini dapat menyebabkan infertilitas parah tanpa solusi klinis saat ini. Wilayah AZFa mengandung persentase sekuens repetitif yang tinggi, sehingga cukup sulit untuk disintesis dan dirakit. Meski demikian, tim berhasil menyintesis wilayah ini di dalam ragi dan mentransfernya ke embrio tikus.Untuk pertama kalinya, tim mengamati transkripsi DNA manusia sintetis di dalam embrio tikus. Studi ini tidak hanya menunjukkan bagaimana lingkungan seluler dapat membentuk ulang genom sintetis, tetapi juga menjanjikan untuk penerapan biomedis di masa depan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

90 persen fisiologi manusia ditopang oleh mikroorganisme dalam tubuh
Indonesia
•
25 Jun 2021

Studi ungkap susu murni dan lemak susu tidak berdampak besar terhadap metabolisme lipid
Indonesia
•
02 Jan 2025

Tim ilmuwan China temukan mutasi penting pada virus Ebola
Indonesia
•
27 Jan 2026

Ilmuwan Australia ungkap sumber tersembunyi karbon biru di lahan basah pesisir
Indonesia
•
21 Aug 2025


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
