
The Washington Post: Masa darurat COVID-19 berakhir, tapi AS lemah lacak wabah

Seorang pria yang mengenakan masker terlihat di sebuah jalan di Washington DC, Amerika Serikat, pada 16 Desember 2022. (Xinhua/Ting Shen)
Keadaan darurat kesehatan masyarakat COVID-19 berakhir pada 11 Mei, namun rumah sakit dan departemen kesehatan negara bagian di Amerika Serikat (AS) akan melaporkan data yang kurang komprehensif karena laboratorium di seluruh AS tidak lagi diharuskan untuk melaporkan hasil tes virus corona kepada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
New York City, AS (Xinhua) – Ketika keadaan darurat kesehatan masyarakat COVID-19 berakhir pada 11 Mei, laboratorium di seluruh Amerika Serikat (AS) tidak lagi diharuskan untuk melaporkan hasil tes virus corona kepada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), menurut laporan The Washington Post pada Selasa (9/5).Rumah sakit dan departemen kesehatan negara bagian juga akan melaporkan data yang kurang komprehensif, "sehingga menyulitkan badan federal yang bertanggung jawab untuk mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan masyarakat dalam melindungi warga Amerika," kata laporan tersebut."Berakhirnya respons virus corona pada masa pemerintahan (Joe) Biden dan perubahan yang menyertainya terhadap persyaratan pelaporan menyoroti kerentanan yang sudah berlangsung lama dari sistem pengawasan kesehatan masyarakat yang sudah rusak, sesuatu yang gagal memberikan informasi yang dapat diandalkan dalam wabah penyakit, bahkan ketika para pakar memperingatkan potensi virus corona akan muncul kembali," tulis laporan itu."Apa yang kita miliki saat ini bukanlah sistem kesehatan masyarakat nasional," seperti dikutip dari pernyataan Nirav Shah, wakil direktur utama CDC. "Kita memiliki pekerjaan tambal sulam. Dan sebagai akibatnya, ketika kita ingin mendapatkan data dan melakukan sintesis, dibutuhkan banyak kerja keras yang memakan waktu terlalu lama."Pandemik virus corona menunjukkan betapa pentingnya pengawasan kesehatan masyarakat secara waktu nyata (real-time) untuk pemahaman dasar tentang wabah, seperti berapa banyak orang yang sakit atau kritis, apakah situasinya menjadi lebih baik atau lebih buruk, dan kelompok demografis mana yang paling terpukul, kata Tom Inglesby, direktur Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins (Johns Hopkins Center for Health Security), yang turut menulis sebuah laporan tentang cara meningkatkan operasi CDC dan respons pandemik.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pembangunan kesehatan berkelanjutan Taiwan di era pascapandemi
Indonesia
•
22 May 2023

Tim peneliti China ungkap cara cegah ‘pembunuh tak kasat mata’ di kalangan lansia pedesaan
Indonesia
•
28 Aug 2025

Penelitian sebut 99 persen kasus cacar monyet di AS menimpa kaum pria
Indonesia
•
10 Aug 2022

Good Doctor dan LSPR luncurkan serial pendidikan kesehatan bagi anak muda
Indonesia
•
30 Oct 2021


Berita Terbaru

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026

Stok darah O di AS tinggal kurang dari sehari, Palang Merah umumkan krisis nasional
Indonesia
•
29 Jul 2026

Kali pertama dalam 42 tahun, populasi warga negara Jepang turun di bawah 120 juta
Indonesia
•
29 Jul 2026

Feature – Dari Sungai Cisadane, tradisi perahu naga terus mengayuh lintas generasi
Indonesia
•
27 Jul 2026
