
Australia beranggapan lebih baik lepas dari AS

Foto yang diabadikan pada 30 Oktober 2024 ini menunjukkan bunga jacaranda yang bermekaran di dekat Sydney Opera House di Sydney, Australia. (Xinhua/Ma Ping)
Meningkatkan kemandirian dari Amerika Serikat akan berdampak baik bagi Australia alih-alih berdampak buruk.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih banyak warga Australia percaya bahwa meningkatkan kemandirian dari Amerika Serikat (AS) akan berdampak baik bagi negara tersebut alih-alih berdampak buruk, menurut sebuah survei.Survei yang dilakukan oleh firma riset pasar Resolve Strategic untuk surat kabar Nine Entertainment itu menemukan bahwa 46 persen warga Australia percaya bahwa meningkatkan kemandirian dari AS dalam hal kebijakan luar negeri dan keamanan nasional merupakan "hal yang baik" bagi negara itu.Sebagai perbandingan, hanya 22 persen responden mengatakan peningkatan independensi akan menjadi ‘hal yang buruk’ bagi Australia, sementara 33 persen lainnya tidak yakin atau bersikap netral.Di antara responden yang mengatakan bahwa mereka memilih Partai Buruh yang berkuasa pada pemilihan umum bulan Mei, 56 persen menyatakan bahwa peningkatan independensi dari AS akan berdampak positif bagi Australia.Lebih dari separuh responden, yakni 53 persen, mengatakan kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS tahun 2024 merupakan hal yang buruk bagi Australia. Angka ini turun dari 68 persen pada April, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan 40 persen saat pemilu AS pada November.Sebanyak 18 persen partisipan mengatakan kemenangan Trump merupakan hal baik bagi Australia, dibandingkan dengan 11 persen pada April dan 29 persen pada November.Pendiri Resolve Strategic, Jim Reed, mengatakan kepada surat kabar Nine Entertainment bahwa hubungan antara Australia dan AS menjadi "tegang," khususnya dalam hal perdagangan."Pihak Australia cukup dingin terhadap Trump, dan tampaknya tarif yang diberlakukannya telah memupuskan harapan untuk meluluhkan hati mereka dalam waktu dekat," katanya.Pertemuan tatap muka pertama yang dijadwalkan antara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Trump dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) pada Juni lalu di Kanada dibatalkan setelah sang presiden meninggalkan KTT lebih awal.Survei baru tersebut menemukan bahwa 38 persen warga Australia percaya AS dan Trump adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas gagalnya pertemuan para pemimpin tersebut, sementara 26 persen lainnya mengatakan Australia dan Albanese-lah yang paling bertanggung jawab.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

AU Taiwan harus bayar 2,4 miliar rupiah kepada keluarga pilot yang tewas
Indonesia
•
17 Dec 2021

PM Ranil Wickremesinghe menangkan pilpres Sri Lanka
Indonesia
•
20 Jul 2022

Rusia pangkas aliran gas melalui Nord Stream 1 hingga 20 persen dari kapasitas
Indonesia
•
27 Jul 2022

Jajak pendapat sebut tingkat kepuasan pada kabinet PM Jepang capai rekor terendah baru
Indonesia
•
13 Dec 2023


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
