
Pakar sebut mengonversi CO2 jadi karbohidrat dapat redam perubahan iklim

Ilmuwan China Cai Tao menunjukkan sampel pati yang disintesis di laboratorium pada 16 September 2021. (Xinhua/Jin Liwang)
Mengonversi CO2 menjadi karbohidrat diharapkan dapat meredam perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, dan mengurangi krisis air dan pangan di negara-negara berkembang.
Beijing, China (Xinhua) – Mengonversi CO2 menjadi karbohidrat diharapkan dapat meredam perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, dan mengurangi krisis air dan pangan di negara-negara berkembang, kata seorang pakar di Forum Zhongguancun yang sedang berlangsung pada Sabtu (27/5).Ilmu hayati (life science) berkembang pesat dan mengarah pada sifat dapat diprediksi, direproduksi, dan diregulasi, menghadirkan ruang pengetahuan yang belum pernah ada sebelumnya untuk merancang sistem biologis artifisial dan mendobrak berbagai batasan yang ditetapkan oleh bentuk dan efisiensi pemanfaatan energi biologis alami, kata Ma Yanhe, Direktur Institut Bioteknologi Industri Tianjin (Tianjin Institute of Industrial Biotechnology/TIB) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Dia menyampaikan pidato tentang konversi dan pemanfaatan CO2 oleh bioteknologi industri dalam forum puncak dan netralitas karbon kedua, sebuah acara besar yang diselenggarakan oleh Forum Zhongguancun.Pada 2021, tim peneliti dari TIB merancang jalur sintesis pati artifisial yang hanya terdiri dari 11 reaksi inti, menghasilkan sintesis lengkap dari CO2 menjadi molekul pati di laboratorium untuk kali pertama.Ma mengatakan mode produksi material baru untuk menyintesis produk-produk pertanian dan petrokimia massal dengan CO2 sebagai bahan baku tersebut akan memicu perubahan besar dalam bentuk sosial dan ekonomi.Ini juga merupakan cara yang menjanjikan untuk meredam perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, mengurangi pencemaran dari pupuk dan pestisida, meningkatkan kapasitas produksi pangan dunia, serta mengurangi krisis air dan pangan di negara-negara berkembang, imbuhnya.Dia juga menyebutkan sejumlah tantangan yang dihadapi oleh teknologi sintesis. Efisiensi konversi energi harus ditingkatkan, katalis protein enzim harus lebih stabil, dan biaya katalis harus lebih rendah.Industrialisasi pertanian merupakan peluang untuk perubahan paradigma. Pengembangan energi hijau membawa peluang strategis yang dapat mengubah pola pertanian dan industri, ujarnya.Diselenggarakan bersama oleh CAS dan Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, forum puncak dan netralitas karbon kedua itu menarik partisipasi dari sekitar 400 perwakilan, dengan fokus pada strategi pengembangan energi, tenaga nuklir canggih, sistem energi baru, energi terbarukan, dan penyimpanan energi, serta pengurangan karbon pada bangunan industri dan transportasi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan Australia ungkap bahaya tersembunyi pestisida di ekosistem akuatik
Indonesia
•
25 Jun 2025

Album Asia – Menikmati pertunjukan aerobatik di hari pertama Aero India 2023
Indonesia
•
14 Feb 2023

Jumlah karang di Great Barrier Reef Australia turun drastis di tengah meningkatnya tekanan iklim
Indonesia
•
07 Aug 2025

Tim ilmuwan identifikasi peran estrogen dalam nyeri usus parah pada perempuan
Indonesia
•
11 Jan 2026


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
