Melatonin hormon tidur jadi senjata baru tingkatkan reproduksi ikan

Melatonin memiliki fungsi vital

Di Indonesia sendiri, tiga spesies belida— Chitala lopis, C. borneensis, dan C. hypselonotus—telah berstatus dilindungi penuh melalui Kepmen KP No. 1 Tahun 2021. (BRIN)

Melatonin memiliki fungsi vital baik pada manusia maupun ikan, karena berperan dalam mengatur ritme biologis, perkembangan sel, imunitas, hingga pertumbuhan.

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) — Melatonin selama ini dikenal publik sebagai hormon pengatur tidur pada manusia. Namun dalam dunia riset akuakultur, hormon ini justru membuka peluang besar untuk meningkatkan performa reproduksi ikan.

Hal itu diungkapkan Deni Radona, peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN, pada Applied Zoology Summer School #14 di Gedung BNC, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Jawa Barat, Jumat (21/11).

Menurut Deni, melatonin memiliki fungsi vital baik pada manusia maupun ikan, karena berperan dalam mengatur ritme biologis, perkembangan sel, imunitas, hingga pertumbuhan.

Mengutip penelitian Cabello tahun 2014, dia menjelaskan bahwa melatonin berperan penting dalam mengatur proses maturasi dan reproduksi ikan. Bahkan, hormon ini mampu merangsang pelepasan GnRH, menginduksi maturation-promoting factor, meningkatkan efektivitas maturation-inducing hormone, serta mengaktifkan antioksidan endogen yang dapat menurunkan tingkat stres dan mendorong produktivitas ikan.

Melatonin juga bekerja melalui sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG) serta merespons sinyal lingkungan seperti fotoperiod, suhu, curah hujan, dan salinitas yang memengaruhi pematangan seksual dan perkembangan gonad.

Dengan berbagai peran itu, melatonin dinilai memiliki prospek besar sebagai aditif pakan, peningkat kualitas benih, hingga peningkat kesehatan ikan. Meski demikian, Deni mengingatkan bahwa riset lanjutan tetap diperlukan untuk menentukan dosis yang tepat, spesies sasaran, waktu aplikasi, serta kondisi lingkungan yang paling sesuai.

Pada sesi yang sama, peneliti PRZT BRIN lainnya, Boby Muslimin, memaparkan penelitian berjudul ‘Assessing Gonadal Maturity and Haematology Endangered Species, Chitala lopis Using Various Hormonal’.

Dia menyoroti kondisi populasi ikan belida yang kini berada dalam situasi mengkhawatirkan.

Indonesia memiliki sekitar 1.280 spesies ikan air tawar, termasuk berbagai jenis ikan endemik—salah satunya adalah ikan belida yang digemari terutama di Sumatra dan Kalimantan. Ikan belida dikenal bernutrisi tinggi, mulai dari protein, omega-3, vitamin B12, vitamin B3, hingga kalsium dan enzim, serta memiliki nilai ekonomi mencapai sekitar 200.000 rupiah per kilogram. Namun harga tinggi ini berbanding terbalik dengan kondisi populasinya.

Boby menjelaskan bahwa jumlah ikan belida terus menurun drastis. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan Chitala lopis pernah dinyatakan punah, sementara spesies lain berada pada kategori berisiko rendah.

Di Indonesia sendiri, tiga spesies belida— Chitala lopis, C. borneensis, dan C. hypselonotus—telah berstatus dilindungi penuh melalui Kepmen KP No. 1 Tahun 2021.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat penangkapan ikan belida di Sumatra Selatan mencapai 260 ton pada 2019, namun pemantauan tahun 2020–2024 menunjukkan penurunan signifikan, terutama untuk spesies Notopterus notopterus di Sumatra Selatan.

Boby juga memaparkan berbagai kendala dalam pengembangan budidaya belida, mulai dari tingkat penetasan yang rendah, sintasan larva yang minim, hingga pertumbuhan yang sangat lambat—hanya sekitar 1 kilogram per tahun pemeliharaan.

Meski tantangannya besar, upaya penyelamatan terus dilakukan. Sejak 2023, BRIN bekerja sama dengan PT Kilang Pertamina RU III Plaju dan Universitas PGRI Palembang menjalankan program domestikasi dan optimasi reproduksi belida melalui uji hormonal GnRH. Hasil penelitian Boby menunjukkan peningkatan signifikan pada produksi telur, vitellogenin, dan estradiol. Dosis 0,5 ml/kg menghasilkan tingkat penetasan 33 persen dan sintasan larva 41 persen—capaian penting bagi spesies yang terancam punah.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait