
Ilmuwan ungkap mekanisme penciuman serangga untuk bantu kembangkan pestisida ramah lingkungan

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 13 Desember 2023 ini menunjukkan Wang Guirong sedang mengamati serangga di Institut Genomik Pertanian di Shenzhen yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS), di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan. (Xinhua/CAAS)
Mekanisme penciuman serangga dan bagaimana paparan bahan kimia tertentu menghasilkan perilaku serangga yang spesifik, memberikan informasi terobosan yang dapat digunakan untuk mengembangkan pestisida yang ramah lingkungan.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China telah memublikasikan penelitian baru yang mendeskripsikan mekanisme penciuman serangga dan bagaimana paparan bahan kimia tertentu menghasilkan perilaku serangga yang spesifik, memberikan informasi terobosan yang dapat digunakan untuk mengembangkan pestisida yang ramah lingkungan, aman, dan efisien.Tim peneliti itu dipimpin oleh Wang Guirong, seorang peneliti di Institut Genomik Pertanian di Shenzhen yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS), bersama dengan para ilmuwan dari Universitas Pertanian Huazhong dan Institut Perlindungan Tanaman yang juga berada di bawah naungan CAAS. Makalah penelitian tersebut diterbitkan secara daring dalam edisi terbaru jurnal akademis Science.Menurut Wang, serangga mengandalkan indra penciuman mereka yang sensitif untuk merasakan semiokimia di lingkungan, yang berarti bahan kimia yang dilepaskan oleh organisme untuk memicu respons. Reseptor bau memainkan peran inti dalam proses pengenalan penciuman, dan ketika aktif, reseptor itu dapat mengubah sinyal kimia eksternal menjadi sinyal bioelektrik, sehingga memediasi respons perilaku serangga yang relevan, kata Wang.Di antara berbagai reseptor bau terdapat reseptor untuk feromon peringatan. Para ilmuwan telah menemukan bahwa sebagian besar kutu daun melepaskan tetesan kecil yang mengandung feromon peringatan dari tabung perut (abdominal tube) ketika diserang oleh musuh alami atau bahaya lainnya, memperingatkan kutu daun di sekitarnya untuk segera melarikan diri, ujar Wang.Dengan menggunakan teknologi mikroskop krioelektron, tim Wang mempelajari struktur reseptor feromon peringatan pada kutu daun kacang polong, dan berhasil mengungkap mekanisme yang digunakan kutu daun untuk mengenali feromon peringatan, sehingga memberikan perspektif baru untuk memahami interaksi antarserangga.Wang mengatakan bahwa penemuan ini memiliki signifikansi ilmiah dan nilai penerapan praktis, memberikan dukungan teoritis dan panduan praktis bagi pengembangan teknologi ramah lingkungan guna mencegah dan mengendalikan kutu daun.Bill Hansson, seorang ilmuwan dari Max Planck Institute for Chemical Ecology di Jerman dan anggota luar negeri di Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), mengatakan, "Pengetahuan ini sangat penting, karena kita masih belum sepenuhnya memahami bagaimana reseptor bau mendeteksi molekul pada organisme apa pun. Selain itu, penelitian mereka berfokus pada kutu daun, hama pertanian yang sangat penting, menunjukkan bahwa pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengelola serangga tersebut dalam pertanian."Sementara itu, Kang Le, seorang akademisi dari CAS, mengatakan, "Terobosan penting ini akan secara efektif mendorong proses penelitian dan pengembangan produk pengendalian hama ramah lingkungan yang baru, memberikan dukungan yang kuat untuk mencapai model produksi pertanian yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan."Menurut Song Bao'an, seorang akademisi dari Akademi Teknik China (Chinese Academy of Engineering), hal ini merupakan terobosan besar dalam bidang penelitian mekanisme pengodean penciuman serangga, dan diharapkan dapat melahirkan deretan produk baru yang ramah lingkungan dan efisien untuk pengendalian perilaku serangga.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China temukan gen padi tahan panas
Indonesia
•
02 May 2025

COVID-19 – WHO serukan kerja sama global lebih kuat hadapi mutasi virus
Indonesia
•
14 Jan 2021

Studi sebut pria umur panjang lebih sehat dibandingkan wanita umur panjang
Indonesia
•
07 Feb 2025

‘Remote control’ TV Samsung tak perlu baterai, isi daya sendiri dari sinyal Wi-Fi
Indonesia
•
05 Jan 2022


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
