
Medan magnet dekat semburan gelombang radio cepat terekam Teleskop FAST China

Foto eksposur panjang yang diabadikan pada 25 Juli 2022 ini menunjukkan Teleskop Radio Sferikal Apertur Lima ratus meter (Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope/FAST) milik China saat sedang dalam proses pemeliharaan di Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua/Ou Dongqu)
Medan magnet di dekat sebuah semburan gelombang radio cepat (fast radio bursts/FRB) dari luar galaksi Bima Sakti terekam, untuk pertama kalinya, oleh teleskop FAST China yang digunakan oleh sebuah kelompok astronom internasional.
Beijing, China (Xinhua) – Menggunakan Teleskop Radio Sferikal Apertur Lima ratus meter (Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope/FAST), atau ‘Mata Langit China’, sebuah kelompok astronom internasional memfilmkan, untuk pertama kalinya, pasang surut magnetis di dekat sebuah semburan gelombang radio cepat (fast radio bursts/FRB) dari luar galaksi Bima Sakti.FRB adalah transien astronomi paling terang, berdurasi milidetik, dan sangat tersebar di spektrum frekuensi radio dengan asal-usulnya belum diketahui.Para astronom China dan Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh astronom dari Observatorium Astronomi Nasional di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China, melaporkan pendeteksian 1.863 semburan dalam 82 jam selama 54 hari dari sumber berulang FRB 20201124A.Pengamatan tersebut mengungkap lingkungan langsung yang rumit, berkembang secara dinamis, serta termagnetisasi dalam sekitar satu unit astronomi (atau jarak antara Bumi dan Matahari) dari sumber radio tersebut, menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada Rabu (21/9).Para ilmuwan menemukan untuk pertama kalinya bahwa ukuran rotasi Faraday, indikator kekuatan medan magnet, bergejolak tidak teratur dalam 36 hari pertama, dan kemudian stabil selama 18 hari.Temuan tersebut menunjukkan bahwa FRB padam dalam waktu 72 jam, sebuah fenomena yang sebelumnya tidak terdeteksi.Kemudian, para astronom menggunakan Teleskop Keck di Hawaii untuk mengamati galaksi induknya yang kaya akan logam dan memiliki ukuran seperti galaksi Bima Sakti.Galaksi merupakan spiral berpalang dengan sumber FRB berada di wilayah kepadatan bintang yang rendah di antara dua lengan, yang berada pada jarak menengah dari pusat galaksi, menurut studi tersebut.Beberapa pengamatan baru-baru ini tentang FRB di Bima Sakti menunjukkan bahwa setidaknya beberapa FRB berasal dari magnetar.Namun, hasil dalam studi ini menunjukkan bahwa sumber berulang FRB 20201124A sepertinya bukan merupakan mesin magnetar muda yang terbentuk selama ledakan ekstrem dari sebuah bintang masif yang mengakibatkan semburan sinar gamma yang panjang atau supernova superluminous. Hal tersebut menambah kerumitan terkait asal-usul FRB.Terletak di daerah dengan depresi karst yang dalam dan melingkar alami di Provinsi Guizhou, China barat daya, FAST mulai beroperasi secara resmi pada Januari 2020 dan secara resmi dibuka untuk dunia pada 31 Maret 2021. FAST diyakini sebagai teleskop radio paling sensitif di dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

NASA akan luncurkan misi baru untuk bantu pembuatan peta 3D Bima Sakti
Indonesia
•
20 Dec 2023

Studi sebut pria umur panjang lebih sehat dibandingkan wanita umur panjang
Indonesia
•
07 Feb 2025

Konferensi Robot Dunia 2023 akan digelar di Beijing
Indonesia
•
06 Jul 2023

Terapi suara non-invasif tingkatkan harapan bagi pengobatan Alzheimer
Indonesia
•
08 Jan 2026


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
