
Tingkat polusi udara yang tidak sehat ancam kehidupan masyarakat di Laos

Foto menunjukkan sebuah jalan dekat taman monumen Patuxay di pusat kota Vientiane, Laos, pada 20 September 2021. (Xinhua/Kaikeo Saiyasane)
Masyarakat Laos semakin khawatir karena mereka terpaksa untuk hidup sehari-hari dengan tingkat PM2,5 yang tidak sehat. PM2,5 adalah partikel halus di udara yang membahayakan kesehatan.
Vientiane, Laos (Xinhua/Indonesia Window) – Masyarakat Laos semakin khawatir karena mereka terpaksa untuk hidup sehari-hari dengan tingkat PM2,5 yang tidak sehat. PM2,5 adalah partikel halus di udara yang membahayakan kesehatan.Indeks kualitas udara di Provinsi Salavan mencapai level yang mengkhawatirkan, dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 144 mikrogram per meter kubik, melebihi ambang batas aman yaitu 50 mikrogram per meter kubik, menurut laporan dari Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Laos pada Minggu (16/2).Provinsi Phongsaly, Provinsi Xieng Khuang, dan ibu kota Laos, Vientiane, juga mencatat tingkat konsentrasi PM2,5 yang tidak sehat dengan angkanya menembus 101 mikrogram per meter kubik.PM2,5, partikulat halus yang menyebabkan kabut asap, merupakan polutan udara yang mengandung partikel sangat kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer.Sonthichak (20), seorang mahasiswa di Vientiane, mengatakan kepada Xinhua dirinya mengendarai sepeda motor ke kampus setiap hari, yang membuatnya terpapar debu dan asap berbahaya. Meskipun mengenakan masker, dia tidak dapat menghindari polusi dan terus menderita batuk yang tidak kunjung sembuh."Polusi selalu ada, baik ketika saya berada di dalam atau di luar ruangan. Saya sudah sakit batuk berpekan-pekan, dan tidak kunjung membaik. Sekarang saya khawatir dengan dampak kesehatan jangka panjang dari paparan PM2,5 secara terus-menerus. Ini menakutkan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di masa depan," kata Sonthichak.Dia menyampaikan harapan adanya kesadaran yang lebih besar dan solusi yang lebih baik untuk masalah ini, seperti alternatif yang lebih bersih untuk sektor pertanian dan transportasi."Saya tidak bisa lagi mengajak kakek-nenek saya keluar rumah, bahkan untuk perjalanan akhir pekan yang sederhana. Mereka selalu suka pergi ke taman atau bepergian, tetapi dengan polusi yang kian memburuk, saya tidak bisa mengambil risiko terhadap kesehatan mereka," kata Somvilay (29), seorang pekerja kantoran di Vientiane, kepada Xinhua.
Seorang pengunjung (kiri) membeli jajanan kaki lima di sebuah pasar malam di Vientiane, Laos, pada 14 Maret 2023. (Xinhua/Kaikeo Saiyasane)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China catat rekor tertinggi perjalanan penumpang selama libur May Day 2026
Indonesia
•
07 May 2026

Penulis Korsel Han Kang raih Penghargaan Nobel Sastra 2024
Indonesia
•
11 Oct 2024

Menyulap gurun menjadi hutan: Cara China bantu dunia menuju penghijauan
Indonesia
•
13 Jun 2023

Kelompok internasional siapkan cadangan vaksin ebola
Indonesia
•
13 Jan 2021


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
