
Feature – Ada 323 juta lansia di China, kursus AI dan teknologi ‘drone’ jadi tren baru masa pensiun

Foto tanpa tanggal ini memperlihatkan para warga lanjut usia (lansia) sedang mengikuti kelas produksi video pendek di Universitas Lansia Ningxia di Yinchuan, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. (Xinhua)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Zhao Minghui (71) mencatat dengan pena panduan dari tutornya tentang cara menggunakan aplikasi kecerdasan buatan (AI) di telepon seluler (ponsel) pintarnya.
"Kami mungkin semakin tua, tetapi kami tetap ingin mengikuti perkembangan zaman," ujar Zhao setelah mengikuti kelas di Universitas Lansia Ningxia (Ningxia University for the Elderly) di China barat laut.
Dulu, Zhao sering meminta bantuan anak-anaknya untuk menggunakan ponsel pintarnya. Setelah mengikuti kelas-kelas di universitas tersebut, Zhao belajar mengirim pesan melalui WeChat, melakukan pembayaran seluler, memesan tiket dan membuat janji temu medis, serta mengedit video pendek, semuanya melalui ponsel pintarnya.
Tahun ini, dia mendaftarkan diri untuk mengikuti kursus AI.
Instruktur Yu Cheng mengenang bahwa pada 2019, ketika dirinya mulai mengajar di sana, sekitar 60 hingga 70 persen muridnya tidak bisa menggunakan ponsel pintar. Kini, dia jarang menemui murid yang seperti itu.
"Cukup ketik satu kalimat, dan sistem dapat menghasilkan teks atau gambar," kata Zhao dengan takjub. Kini, dia menggunakan AI untuk menjawab berbagai pertanyaan dan bahkan mengobrol ketika merasa bosan.
Di seluruh China, universitas-universitas untuk lansia menawarkan kursus AI, produksi video, dan fotografi menggunakan drone. Kursus-kursus tersebut membantu para pensiunan menangani tugas sehari-hari dengan lebih mudah, tetap terhubung dengan keluarga, atau sekadar mencoba hal-hal baru.
Pada 2025, China memiliki lebih dari 323 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas, yang mencakup 23 persen dari total populasi.
Namun, data resmi menunjukkan bahwa hanya 53,7 persen dari kelompok usia tersebut yang merupakan pengguna internet, dibandingkan dengan tingkat penetrasi internet nasional sebesar 80,1 persen.
Wang Weiyu (69) merupakan salah satu dari mereka yang menerapkan keterampilan baru untuk berkarya di Provinsi Shandong, China timur.
Di Universitas Lansia Qingdao (Qingdao University for the Elderly), instruktur Ji Pengcheng memproyeksikan layar ponsel pintarnya ke layar besar untuk memperlihatkan kepada sekitar 12 murid cara mengedit video. Ketika ada yang mengalami kesulitan melakukan suatu langkah, dia langsung menghampiri untuk membantu.
Wang mengikuti kelas tersebut pada tahun ini. Dalam enam bulan, dia telah belajar menggunakan perangkat lunak penyuntingan, teknik pengambilan gambar, dan templat video.
"Setiap kali saya membagikan klip video buatan sendiri di grup WeChat keluarga, anak-anak selalu memberi saya (emotikon) jempol," ujarnya sambil tersenyum.
Antusiasme para peserta didik tersebut telah memicu lonjakan permintaan terhadap kursus teknologi di berbagai universitas untuk lansia di seluruh China.
Pada 2025, seluruh 60 kursi di kursus DeepSeek AI di sebuah universitas untuk lansia di Guangzhou habis terisi hanya dalam puluhan detik setelah pendaftaran dibuka.
Di Shanghai, universitas untuk lansia tersebut bahkan telah menerima murid berusia 80-an tahun dalam kursus fotografi drone, yang diluncurkan pada 2022.
Di Universitas Lansia Ningxia, lebih dari 3.600 orang telah mendaftar untuk mengikuti kursus teknologi, yang mencakup penggunaan aplikasi AI, produksi video, teknologi rumah pintar, dan perdagangan elektronik (e-commerce).
"Banyak kursus yang kuotanya terisi penuh dalam hitungan menit setelah pendaftaran dibuka," ujar Liu Rui, wakil direktur pusat layanan universitas tersebut.
Rencana Lima Tahun ke-15 China (2026-2030) menyerukan perluasan kesempatan pendidikan bagi kaum lansia serta pengembangan lebih banyak universitas untuk lansia guna memenuhi kebutuhan budaya dan intelektual mereka.
Bagi banyak partisipan, daya tariknya tidak hanya sekadar mempelajari keterampilan praktis baru, dengan kelas-kelas yang juga memberikan kesempatan untuk pertumbuhan pribadi dan interaksi sosial.
"Mempelajari keterampilan-keterampilan baru ini telah membuat masa pensiun saya lebih bermakna," ujar Xu Zonggang, seorang warga Qingdao berusia 70 tahun, yang kini tengah merencanakan perjalanan berikutnya bersama teman-teman sekelasnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB desak penyelidikan atas dugaan Israel targetkan warga sipil di Gaza
Indonesia
•
25 Mar 2024

Universitas lansia daring di China luncurkan program kelas terbuka baru
Indonesia
•
22 Mar 2024

Korban tewas akibat gempa bumi di China barat laut bertambah jadi 131 orang
Indonesia
•
21 Dec 2023

Paralimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 resmi dibuka di Verona, Italia
Indonesia
•
08 Mar 2026


Berita Terbaru

Feature – Delegasi pemuda Indonesia rasakan warisan budaya takbenda di Shanxi, China
Indonesia
•
05 Nov 2026

Belajar bahasa Mandarin membuka pintu studi dan karier bagi generasi muda Indonesia
Indonesia
•
04 Nov 2026

Feature – Menelusuri warisan pedagang Shanxi, pemuda Indonesia belajar nilai integritas dan kepercayaan
Indonesia
•
04 Nov 2026

Kasus kanker serviks dunia diproyeksikan tembus 1,08 juta pada 2050, kematian capai 522.000
Indonesia
•
04 Nov 2026
