Ilmuwan sebut air berpendar di Tasmania terkait perubahan iklim, bukan limbah budidaya ikan

Ilustrasi. (Sean Robertson on Unsplash)
Fenomena bioluminesensi yang menyebabkan air di garis pantai tenggara Negara Bagian Tasmania, Australia, berpendar merah pada siang hari dan biru pada malam hari, berasal dari pemanasan laut yang dipicu iklim.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan mengatakan fenomena bioluminesensi yang menyebabkan air di garis pantai tenggara Negara Bagian Tasmania, Australia, berpendar merah pada siang hari dan biru pada malam hari, berasal dari pemanasan laut yang dipicu iklim, bukan polusi dari budidaya salmon di dekatnya.Cahaya pendar tersebut, yang muncul kembali hampir setahun setelah fenomena serupa, disebabkan oleh Noctiluca scintillans, plankton laut bioluminesensi yang memakan alga mikroskopis dan naik ke permukaan saat mati, menciptakan lapisan air berwarna merah ketika terombang-ambing, demikian dilansir Australian Broadcasting Corporation pada Selasa (6/1).Otoritas setempat telah menyarankan untuk tidak berenang di area-area yang terdampak, meskipun fenomena ini terus menarik banyak orang ke pantai-pantai selatan Tasmania.Lisa-ann Gershwin, ahli biologi kelautan, mengatakan meski menakjubkan, pertumbuhan alga tersebut dapat melepaskan amonia, yang dapat menyebabkan iritasi kulit pada manusia dan mengurangi kadar oksigen di perairan sekitarnya, yang mengakibatkan kematian pada beberapa hewan laut.Gershwin menggambarkan fenomena ini sebagai tanda ketidakseimbangan ekologis yang dipengaruhi oleh perairan yang lebih hangat akibat penguatan arus Australia Timur yang disebabkan oleh perubahan iklim.Sementara itu, Profesor Emeritus Gustaaf Hallegraeff dari Universitas Tasmania menjelaskan pertumbuhan alga tersebut dipicu oleh nutrisi alami dari laut dalam, bukan dari "limbah darat atau budidaya salmon."Organisme ini "tidak membutuhkan" nutrisi seperti amonia dan urea yang dilepaskan oleh budidaya salmon, kata Hallegraeff, yang telah meneliti pertumbuhan alga berbahaya selama lebih dari 40 tahun.Namun, hal itu dapat menimbulkan masalah bagi budidaya salmon. Sejumlah pakar mengatakan fenomena pertumbuhan Noctiluca di lepas Semenanjung Tasman, Tasmania, menghalangi salmon muncul ke permukaan untuk mencari makan pada 2003 lalu.Gershwin memperingatkan kondisi yang mendukung Noctiluca dapat memungkinkan terjadinya pertumbuhan berbahaya seperti meluasnya wabah alga beracun yang disebabkan oleh organisme Karenia cristata di Australia Selatan.Namun, pertumbuhan Noctiluca scintillans menimbulkan risiko minimal, menurut Hallegraeff, dan menurutnya belum ada bukti jika perluasan jangkauan Noctiluca akibat iklim dapat mengganggu organisme lain.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Studi di Selandia Baru tunjukkan El Nino perpanjang musim serbuk sari dan risiko alergi
Indonesia
•
18 Sep 2025

Perusahaan antariksa China pamerkan teknologi komunikasi ‘mobile-to-satellite’
Indonesia
•
15 Feb 2025

Lautan di dunia serap banyak panas pada 2025
Indonesia
•
11 Jan 2026

Studi ungkap gempa bumi dapat sediakan ‘bahan bakar’ untuk kehidupan bawah tanah
Indonesia
•
22 Jul 2025
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
