
Tim peneliti China identifikasi longsoran baru di Bulan

Bulan terlihat saat terjadinya fenomena gerhana Bulan di atas langit wilayah Yuqing, Kota Zunyi, Provinsi Guizhou, China barat daya, pada 8 September 2025. (Xinhua/Zhou Lei)
Longsoran baru di Bulan yang terbentuk sejak 2009 dipicu oleh aktivitas seismik yang berasal dari dalam Bulan, atau "gempa Bulan endogenik," bukan akibat tumbukan asteroid.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China mengidentifikasi longsoran baru di Bulan yang terbentuk sejak 2009, menurut artikel penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal National Science Review.Pemicu utama longsoran semacam itu adalah aktivitas seismik yang berasal dari dalam Bulan, atau "gempa Bulan endogenik," bukan akibat tumbukan asteroid, menurut artikel tersebut.Tim peneliti dari Universitas Sun Yat-sen di Provinsi Guangdong, China selatan, menganalisis citra multitemporal dari wilayah-wilayah di permukaan Bulan yang paling tidak stabil. Penelitian tersebut mengungkap bahwa serangkaian longsoran baru ini bersifat dangkal dan kecil, dengan setiap longsoran menggeser kurang dari 100.000 meter kubik material.Sebagian besar longsoran ini memiliki panjang kurang dari satu kilometer dan lebar kurang dari 100 meter.Setelah menginvestigasi kondisi geologis longsoran baru tersebut, tim peneliti mengidentifikasi sejumlah besar kawah tumbukan yang baru terbentuk, dengan diameter terbesar melebihi 70 meter. Namun, kurang dari 30 persen longsoran baru itu tampaknya dipicu oleh tumbukan-tumbukan tersebut.Kebanyakan longsoran baru kemungkinan dipicu oleh "gempa Bulan endogenik," dan mereka menunjukkan pola pengklasteran spasial yang khas di sebelah timur cekungan Imbrium, mengindikasikan distribusi zona seismik heterogen pada bagian dalam Bulan, menurut artikel penelitian tersebut.Sebelumnya, zona seismik aktif yang terletak jauh di dalam Bulan sebagian besar tidak terdeteksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola spasial longsoran Bulan dapat digunakan untuk mengidentifikasi zona seismik aktif.Selain itu, penelitian ini juga memberikan strategi yang jelas untuk menargetkan penempatan seismometer di masa depan dan menyelidiki struktur internal Bulan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

NASA dan SpaceX luncurkan misi berawak keenam ke stasiun luar angkasa
Indonesia
•
03 Mar 2023

Peneliti temukan mikroplastik di plasenta ibu
Indonesia
•
28 Dec 2020

AS kembali luncurkan misi astronaut komersial ke stasiun luar angkasa
Indonesia
•
19 Jan 2024

Gelombang panas uji ketangguhan infrastruktur dan picu tren pembelian pakaian anti-UV di China
Indonesia
•
21 Jun 2024


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
