
Foreign Policy: Pasokan bom tandan AS ke Ukraina tunjukkan keterbatasan liberalisme

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden (kanan) bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 21 Desember 2022. (Xinhua/Liu Jie)
Liberalisme memungkinkan warga Amerika dan sekutu-sekutu terdekat mereka untuk mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa apa yang baik untuk mereka juga baik untuk semua pihak, tetapi hal ini memiliki setidaknya dua kelemahan serius, yakni pretensi universalisme dan kerapuhan keyakinan liberal, yang menghambat segala bentuk kemajuan dalam tingkat keberhasilan kebijakan luar negeri AS.
New York City, AS (Xinhua) – Keputusan kontroversial pemerintahan Joe Biden untuk memasok bom tandan (cluster bomb) ke Ukraina menjadi ilustrasi yang menggambarkan keterbatasan liberalisme sebagai pedoman untuk kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS), demikian dilaporkan oleh majalah Foreign Policy pada Rabu (19/7)."Retorika pemerintahan ini memuja superioritas demokrasi dibandingkan autokrasi, menyoroti komitmennya terhadap 'tatanan berbasis aturan', dan dengan teguh menyatakan bahwa pemerintahan ini menganggap serius hak asasi manusia. Namun, jika hal itu benar, mereka tidak akan mengirim senjata yang menimbulkan risiko serius bagi warga sipil, dan yang penggunaannya di Ukraina dikritik keras di masa lalu," sebut laporan itu."Namun, seperti dalam isu-isu penting lainnya, keyakinan liberal itu dilupakan begitu keyakinan tersebut dianggap menyulitkan," imbuh laporan itu. "Perilaku ini seharusnya tidak membuat kita terkejut. Ketika negara berada dalam masalah dan khawatir akan mengalami kemunduran, mereka mengesampingkan prinsip mereka dan melakukan apa yang menurut mereka harus dilakukan untuk menang."Oleh karena itu, ketika mereka beralih ke kebijakan luar negeri, kaum liberal cenderung membagi dunia menjadi negara yang baik (negara yang memiliki tatanan yang sah berdasarkan prinsip-prinsip liberal) dan negara yang buruk (negara yang tidak termasuk dalam kategori sebelumnya), dan menyalahkan negara yang dianggap buruk atas sebagian besar atau bahkan semua masalah di dunia, menurut laporan itu.Liberalisme memungkinkan warga Amerika dan sekutu-sekutu terdekat mereka untuk mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa apa yang baik untuk mereka juga baik untuk semua pihak, tetapi hal ini memiliki setidaknya dua kelemahan serius, yakni pretensi universalisme dan kerapuhan keyakinan liberal, yang menghambat segala bentuk kemajuan dalam tingkat keberhasilan kebijakan luar negeri AS, imbuh laporan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

47 orang tewas, lebih dari 346.000 lainnya terdampak pascagempa dahsyat di Filipina selatan
Indonesia
•
11 Jun 2026

Hamas sebut ada sinyal positif untuk negosiasi tahap kedua gencatan senjata Gaza
Indonesia
•
09 Mar 2025

Presiden Erdogan lantunkan Al-Qur'an saat buka Hagia Sophia menjadi masjid
Indonesia
•
24 Jul 2020

Jajak pendapat sebut kriminalitas jadi isu mendesak bagi para pemilih AS
Indonesia
•
02 Aug 2023


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
