Lebih dari 2,6 juta warga Kuba tidak miliki akses pasokan air yang memadai

Seorang petani memetik daun tembakau untuk dijadikan cerutu di sebuah perkebunan di Pinar del Rio, Kuba, pada 25 Februari 2025. (Xinhua/Joaquin Hernandez)

Havana, Kuba (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 2,6 juta orang di Kuba terdampak gangguan pasokan air perpipaan, seperti disampaikan seorang pejabat sumber daya air pada Rabu (4/11).

"Hingga Selasa (3/11), sebanyak 2.681.770 penduduk terdampak gangguan jaringan air perpipaan," ujar Antonio Rodriguez, presiden Institut Sumber Daya Hidrolik Nasional Kuba, dalam sebuah program radio yang dipandu oleh Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel dan disiarkan oleh Radio Rebelde milik negara di Havana.

Sebanyak 25 persen dari gangguan tersebut disebabkan oleh masalah pada peralatan pemompaan air, katanya.

Di Havana saja, sebanyak 536.000 orang terdampak, angka tertinggi di antara provinsi-provinsi di negara itu, tambahnya.

Untuk mengatasi masalah di Havana, pihak berwenang berencana membangun 10 pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas gabungan 200 megawatt, beserta sistem penyimpanan energi, untuk mendukung tiga sumber pasokan air ibu kota tersebut, seperti diumumkan Rodriguez.

Proyek itu dijadwalkan rampung pada Agustus 2027, meskipun berbagai upaya sedang dilakukan untuk mempersingkat jangka waktu tersebut, kata pejabat itu.

Menurut Diaz-Canel, masalah tersebut berasal dari infrastruktur yang sudah tua dan pemeliharaan yang tidak memadai, yang belum ditangani dalam skala yang diperlukan, serta krisis energi yang membatasi ketersediaan bahan bakar untuk memompa air dan menghasilkan listrik.

Diaz-Canel juga menyebut embargo perdagangan AS sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap krisis tersebut.

Pemerintah Kuba bermaksud mengembangkan sebuah program komprehensif untuk memulihkan infrastruktur jaringan dan sistem pemompaan, guna memastikan pasokan air menjadi tidak terlalu bergantung pada tenaga listrik.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait