
Larangan penangkapan ikan selama 10 tahun di Sungai Yangtze buahkan hasil berlipat

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 7 Desember 2025 memperlihatkan pemandangan Ngarai Wuxia, salah satu dari Tiga Ngarai di Sungai Yangtze, di Chongqing, China barat daya. (Xinhua/Wang Zhonghu)
Larangan penangkapan ikan selama 10 tahun di Sungai Yangtze berhasil memperkuat perlindungan kehidupan akuatik, membantu nelayan yang berhenti menangkap ikan untuk mendapatkan mata pencaharian baru, serta berkontribusi pada konservasi ekologis.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China pada Rabu (10/12) menyatakan bahwa negara itu mencapai berbagai hasil penting dalam mendorong pelaksanaan larangan penangkapan ikan selama 10 tahun di Sungai Yangtze, yakni memperkuat perlindungan kehidupan akuatik, membantu nelayan yang berhenti menangkap ikan untuk mendapatkan mata pencaharian baru, serta berkontribusi pada konservasi ekologis.Kementerian tersebut, bekerja sama dengan sejumlah departemen terkait, meluncurkan berbagai program bantuan untuk menjamin mata pencaharian para mantan nelayan. Hingga akhir September lalu, semua 142.000 nelayan yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja telah dipekerjakan kembali, dan semua 220.000 nelayan yang memenuhi syarat telah terdaftar dalam program asuransi jaminan pensiun.Dengan berbagai upaya perlindungan dan pemulihan yang diperkuat, keanekaragaman hayati perairan Sungai Yangtze terus membaik. Pada 2025, lebih dari 970.000 ekor ikan sturgeon China dilepaskan, dengan lebih dari 60 persen di antaranya telah mencapai laut melalui muara Sungai Yangtze.China juga mendorong pemulihan habitat-habitat penting dan strategis, mengelola secara ketat kawasan lindung sumber daya plasma nutfah perairan, serta melakukan penebaran kembali secara ilmiah, menurut kementerian tersebut.Guna meningkatkan keanekaragaman hayati di sepanjang Sungai Yangtze, China memberlakukan larangan total penangkapan ikan di 332 kawasan konservasi di cekungan sungai tersebut pada Januari 2020. Langkah-langkah perlindungan kemudian diperluas menjadi moratorium selama 10 tahun di sepanjang aliran utama sungai dan anak sungai besar, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2021.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak naik sekalipun OPEC+ tingkatkan produksi, permintaan AS turun
Indonesia
•
06 Jan 2022

Perkiraan inflasi Brasil pada 2022 turun jadi 5,79 persen
Indonesia
•
13 Dec 2022

Aramco peringatkan krisis minyak global karena kurangnya investasi
Indonesia
•
24 May 2022

Jumlah warga AS yang miliki lebih dari satu pekerjaan terus meningkat
Indonesia
•
31 Aug 2024


Berita Terbaru

Lepas L8 resmi meluncur di Indonesia, dibanderol Rp589 juta dengan Jarak tempuh hingga 1.300 km
Indonesia
•
28 Jul 2026

Malaysia tinggal selangkah lagi jadi negara berpenghasilan tinggi, ekonomi tumbuh 5,8 persen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Indonesia raup 18,62 triliun rupiah dari Panda Bonds perdana, pasar keuangan China kian terbuka
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ekonomi ASEAN+3 diproyeksikan tumbuh 4,1 persen pada 2026, didorong AI dan semikonduktor
Indonesia
•
28 Jul 2026
