Jumlah karang di Great Barrier Reef Australia turun drastis di tengah meningkatnya tekanan iklim

Foto dari udara yang diabadikan pada 2 Juni 2021 ini menunjukkan Great Barrier Reef di Queensland, Australia. (Xinhua/Hu Jingchen)
Lapisan karang keras di Great Barrier Reef di Australia berkurang drastis, kembali ke tingkat rata-rata jangka panjang setelah mencapai rekor tertinggi baru-baru ini.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Lapisan karang keras di Great Barrier Reef di Australia berkurang drastis, kembali ke tingkat rata-rata jangka panjang setelah mencapai rekor tertinggi baru-baru ini, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (6/8).Temuan tersebut menyoroti adanya volatilitas baru dalam kesehatan karang, menurut laporan survei tahunan Institut Ilmu Kelautan Australia (Australian Institute of Marine Science/AIMS) tentang sistem terumbu karang terbesar di dunia yang terletak di lepas pantai Queensland, Australia, itu.Laporan itu menyebutkan bahwa Great Barrier Reef telah mengalami penurunan tahunan terbesar dalam hal lapisan karang di dua dari tiga wilayahnya sejak AIMS memulai pemantauan 39 tahun yang lalu.Penurunan ini terutama disebabkan oleh tekanan hawa panas yang dipicu oleh perubahan iklim akibat peristiwa pemutihan (bleaching) massal pada 2024, serta kerusakan akibat badai siklon dan wabah bulu seribu (crown-of-thorns starfish), menurut laporan itu.Menurut AIMS, lapisan karang menurun sekitar 25 persen di area utara, hampir 14 persen di area tengah, dan sekitar sepertiga di area selatan, yang mengalami pemutihan parah untuk pertama kalinya.Pemimpin Program Pemantauan Jangka Panjang (Long-Term Monitoring Program/LTMP) AIMS, Mike Emslie, mengatakan bahwa dalam 15 tahun terakhir, lapisan karang keras menjadi lebih tidak stabil, berfluktuasi dengan cepat di antara level terendah dan tertinggi yang pernah tercatat, menunjukkan bahwa ekosistem tersebut mengalami tekanan.Terumbu karang yang didominasi oleh spesies Acropora, yang dikenal karena pertumbuhannya yang cepat namun memiliki kerentanan yang tinggi, menjadi salah satu yang paling terdampak, "karena terumbu karang itu rentan terhadap tekanan hawa panas, badai siklon, dan menjadi makanan favorit bulu seribu," kata Emslie.LTMP AIMS 2025 melakukan survei terhadap 124 terumbu karang pada Agustus 2024 hingga Mei 2025, dan menemukan bahwa sebagian besar terumbu karang memiliki lapisan karang keras sebesar 10-30 persen, 33 terumbu karang memiliki 30-50 persen, dua terumbu karang mencatat lebih dari 75 persen, dan dua terumbu karang memiliki kurang dari 10 persen.CEO AIMS Selina Stead mengatakan bahwa temuan tersebut dengan solid menunjukkan bagaimana pemanasan laut akibat perubahan iklim menyebabkan kerusakan yang signifikan dan cepat pada komunitas terumbu karang di Great Barrier Reef.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Peneliti China ungkap peran sumber panas perkotaan dalam memperparah peristiwa panas ekstrem
Indonesia
•
20 Dec 2025

Studi ungkap gempa bumi dapat sediakan ‘bahan bakar’ untuk kehidupan bawah tanah
Indonesia
•
22 Jul 2025

Acer jadi merek komputer Chromebook teratas di kuarter ke-4 2021
Indonesia
•
12 Feb 2022

Perkakas batu periode Paleolitikum ditemukan di Mongolia Dalam, China utara
Indonesia
•
04 Jan 2023
Berita Terbaru

Pola makan vegan dan vegetarian mman bagi pertumbuhan bayi
Indonesia
•
10 Feb 2026

Hidrogen dan manufaktur hijau, kunci penting transisi energi rendah karbon
Indonesia
•
10 Feb 2026

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026
