
Studi ungkap gempa bumi dapat sediakan ‘bahan bakar’ untuk kehidupan bawah tanah

Ilustrasi. (Elena Mozhvilo on Unsplash)
Aktivitas kerak bumi seperti gempa bumi dapat berfungsi sebagai ‘bahan bakar alternatif’ selain sinar matahari bagi mikroorganisme bawah tanah.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China menemukan bahwa energi kimia yang seketika dilepaskan oleh aktivitas kerak bumi seperti gempa bumi dapat berfungsi sebagai ‘bahan bakar alternatif’ selain sinar matahari bagi mikroorganisme bawah tanah.Temuan terbaru ini mengungkap sumber energi penting untuk ekosistem Bumi-dalam (deep-Earth) dan juga membantu pencarian potensi kehidupan bawah tanah di planet-planet seperti Mars dan Europa, satelit keenam dari planet Jupiter.Studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Geokimia Guangzhou di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) itu belum lama ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances.Di kedalaman gelap di luar jangkauan manusia, hidup 95 persen organisme prokariotik Bumi, menyumbang sekitar 19 persen dari total biomassa di Bumi. Bentuk-bentuk kehidupan ini tidak dapat memperoleh bahan organik yang tersintesis melalui fotosintesis, dan bagaimana mereka memperoleh energi telah lama menjadi misteri dalam komunitas ilmiah, menurut para peneliti.Setelah melakukan simulasi aktivitas patahan beberapa kilometer di bawah tanah, tim peneliti menemukan bahwa ketika batuan patah dan menciptakan permukaan yang baru, ikatan kimia yang baru saja patah akan langsung bersentuhan dengan air. Interaksi ini menghasilkan sejumlah besar hidrogen dan hidrogen peroksida. Proses tersebut kemudian memicu siklus oksidasi dan reduksi besi, yang secara terus-menerus melepaskan elektron dalam prosesnya.Elektron-elektron ini selanjutnya mengalir di antara elemen-elemen penting bagi kehidupan, seperti karbon, belerang, dan nitrogen, membentuk "jaringan listrik bawah tanah" yang tak terlihat yang menyediakan energi bagi mikroorganisme, kata tim peneliti.Berdasarkan studi tersebut, para peneliti mengatakan bahwa dalam misi masa depan untuk mendeteksi kehidupan di luar Bumi, sangat penting untuk memberikan perhatian khusus untuk mencari zat teroksidasi dan tereduksi di dekat zona patahan, yang dapat menjadi kondisi yang sangat penting bagi keberadaan kehidupan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Satelit Luojia-3 01 tuntaskan uji teknis utama
Indonesia
•
17 Feb 2023

Bus hidrogen moda transportasi di kota tuan rumah Olimpiade Musim Dingin Beijing
Indonesia
•
09 Jan 2023

Sebuah planet kecil dinamai atas ilmuwan medis terkemuka China, Zhong Nanshan
Indonesia
•
13 Oct 2024

Transplantasi jantung tanpa waktu iskemik pertama di dunia berhasil dilakukan di Taiwan
Indonesia
•
20 Apr 2025


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
