Kuliah tinggi, tapi menganggur: Krisis ‘skill’ dan AI hantui anak muda Asia

Warga Sri Lanka mengantre di luar sebuah badan ketenagakerjaan negara di Kolombo, Sri Lanka, pada 8 Agustus 2011, untuk mendapatkan peluang kerja di Korea Selatan. (Xinhua/Gayan Sameera)

Kolombo, Sri Lanka (Xinhua/Indonesia Window) – Sri Lanka mencatat tingkat pengangguran tertinggi di kalangan kaum muda berpendidikan tinggi di antara sekelompok perekonomian Asia yang diteliti oleh Dana Moneter Internasional (IMF), demikian dilansir media lokal Newswire pada Senin (21/9).

Menurut grafik yang diterbitkan dalam majalah IMF ‘Finance & Development’ edisi September 2026, berdasarkan data 2025 atau data terbaru yang tersedia, sekitar 43 persen warga Sri Lanka berusia 15 hingga 24 tahun yang berpendidikan pasca-sekolah menengah masih menganggur.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara perekonomian-perekonomian yang diperbandingkan. Posisi Sri Lanka ini disusul oleh India di angka sekitar 42 persen, dan Bangladesh di angka sekitar 36 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengangguran pemuda di seluruh Asia sering kali jauh lebih tinggi di kalangan mereka yang berpendidikan tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Pola ini khususnya menonjol di Asia Selatan.

Temuan ini mengindikasikan adanya masalah yang melampaui ketersediaan lapangan kerja. Lulusan menghadapi ketidaksesuaian yang makin besar antara kualifikasi mereka dan keterampilan yang dibutuhkan oleh pemberi kerja. Tekanan serupa dilaporkan di berbagai perekonomian di Asia, meskipun skalanya sangat bervariasi antarnegara.

Perubahan teknologi dapat kian memperumit situasi ini. IMF mengatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, namun juga dapat memperbesar tekanan di pasar tenaga kerja terhadap pekerja muda jika adopsi teknologi tersebut berjalan lebih cepat daripada pengembangan keterampilan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait