
China berharap KTT Perdamaian di Ukraina tak jadi ajang konfrontasi blok

Foto yang diabadikan pada 27 Februari 2022 ini menunjukkan kepulan asap di langit Kiev, Ukraina. (Xinhua/Lu Jinbo)
KTT Perdamaian di Ukraina yang diselenggarakan oleh Swiss, tidak dihadiri oleh China, dan diyakini menandakan bahwa China tidak mendukung perdamaian dan berpihak pada Rusia yang bertentangan dengan Ukraina.
Beijing, China (Xinhua) – China sangat berharap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian di Ukraina tidak akan berubah menjadi ajang yang digunakan untuk menciptakan konfrontasi blok, kata Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri China Mao Ning pada Senin (3/6).Mao menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers rutin untuk menanggapi pertanyaan media. China mengatakan secara terbuka pada pekan lalu bahwa pihaknya tidak akan menghadiri KTT Perdamaian di Ukraina yang diselenggarakan oleh Swiss. Beberapa pihak meyakini bahwa tidak hadirnya China di KTT ini menandakan bahwa China tidak mendukung Swiss dan Ukraina dalam penyelenggaraan KTT ini, serta bahwa China tidak mendukung perdamaian dan berpihak pada Rusia yang bertentangan dengan Ukraina.Mao mengatakan bahwa China percaya semua upaya yang kondusif bagi penyelesaian krisis secara damai harus didukung."Kami sangat memprioritaskan penyelenggaraan KTT Perdamaian di Ukraina oleh Swiss sejak awal dan telah menjalin komunikasi erat dengan Swiss, Ukraina, serta pihak-pihak terkait lainnya dalam hal ini," imbuhnya.China telah berulang kali menekankan bahwa konferensi perdamaian internasional tersebut harus memenuhi tiga elemen penting, yakni pengakuan dari Rusia dan Ukraina, partisipasi yang setara dari semua pihak, dan diskusi yang adil mengenai semua rencana perdamaian, kata Mao, seraya menambahkan bahwa sejauh yang diketahui oleh China, pertemuan tersebut tampaknya belum memenuhi ketiga elemen ini dan itulah alasan mengapa China tidak dapat ambil bagian dalam pertemuan tersebut.Mao menekankan bahwa posisi China mengenai konferensi perdamaian tersebut bersifat adil dan jujur."Posisi kami tidak menyasar pihak mana pun dan tentu saja tidak (menyasar) KTT khusus ini. Keputusan China terkait partisipasi murni didasarkan pada penilaian kami terhadap pertemuan itu sendiri, dan kami yakin pihak-pihak terkait dapat memahami posisi kami," ujarnya.Apakah suatu negara mendukung perdamaian atau tidak sebaiknya tidak dinilai oleh negara tertentu atau berdasarkan pertemuan tertentu, kata Mao. Tidak menghadiri KTT tersebut bukan berarti tidak mendukung perdamaian, dan untuk negara-negara tertentu, bahkan jika mereka berpartisipasi, mereka belum tentu dengan sepenuh hati ingin konflik tersebut berakhir, imbuhnya.Mao mengatakan bahwa hal yang penting adalah tindakan seperti apa yang diambil, dan apa yang telah terjadi menunjukkan bahwa China telah berkomitmen secara tegas dan aktif untuk mendorong perundingan perdamaian.Lebih lanjut dikatakan Mao, China tidak pernah berdiam diri atau memperkeruh situasi, apalagi mengambil keuntungan dari konflik tersebut."Sebaliknya, kami justru bekerja tanpa henti untuk mewujudkan gencatan senjata, dan hal ini telah mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk Rusia dan Ukraina," imbuh sang jubir.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Prancis sebut tidak ada mandat bagi Komisi Eropa untuk hadiri pertemuan "Dewan Perdamaian"
Indonesia
•
20 Feb 2026

Wawancara: Demokrasi China didasarkan pada realitas nasional dan layak dipelajari
Indonesia
•
04 Nov 2022

Kepala UNRWA minta dukungan untuk perannya implementasikan gencatan senjata di Gaza
Indonesia
•
13 Feb 2025

Fokus Berita – UE bersiap untuk pemilu krusial di tengah meningkatnya tantangan
Indonesia
•
07 Jun 2024


Berita Terbaru

Serangan terhadap pemukim di Tepi Barat tembus 1.000 kasus tahun ini
Indonesia
•
13 Jun 2026

Mantan Presiden Korsel Yoon Suk-yeol divonis 30 tahun penjara dalam kasus pengkhianatan negara
Indonesia
•
13 Jun 2026

Iran pastikan perundingan damai dengan AS masuki tahap akhir
Indonesia
•
13 Jun 2026

Iran laporkan 54 awak kapal tewas dan 253 kapal hancur sejak konflik dimulai
Indonesia
•
11 Jun 2026
