
Taktik perang nonkonvensional Israel tingkatkan risiko konflik regional yang lebih luas

Kepala militer Israel Herzi Halevi (belakang) menghadiri pertemuan di markas besar Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Tel Aviv, Israel, saat operasi militer Israel berlangsung di Beirut, Lebanon, pada 20 September 2024. (Xinhua/Pasukan Pertahanan Israel)
Konfrontasi antara Israel dan Hizbullah akan bereskalasi ke tingkat baru yang lebih berbahaya, terutama dengan adanya pergeseran dalam taktik Israel.
Damaskus, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Ledakan alat komunikasi baru-baru ini di Lebanon yang menargetkan Hizbullah, bersamaan dengan pembunuhan para komandan tinggi Hizbullah, telah meningkatkan kewaspadaan di seluruh Timur Tengah. Banyak pakar memperingatkan bahwa konfrontasi antara Israel dan Hizbullah akan bereskalasi ke tingkat baru yang lebih berbahaya.Ketegangan di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon meningkat tajam menyusul ledkan 37 orang dan melukai 2.931 lainnya. Israel belum menyatakan bertanggung jawab, sementara Hizbullah menuding Israel sebagai dalang di balik ledakan tersebut.Pada Jumat (20/9) sore, sedikitnya 37 orang, termasuk Ibrahim Akil, komandan seakan pager dan walkie-talkie di Lebanon pada awal pekan ini yang menewasmentara Pasukan Elit Radwan Hizbullah, tewas dalam sebuah serangan udara Israel di Beirut selatan. Serangan ini terjadi setelah Hizbullah meluncurkan lebih dari 100 roket ke Israel sebelumnya pada hari itu.Para pakar politik di Suriah meyakini serangan-serangan tersebut menandakan adanya pergeseran dalam taktik Israel, yang mengisyaratkan kawasan itu kemungkinan akan menghadapi konflik yang lebih luas dan tidak dapat diprediksi.Sebuah editorial di surat kabar Tishreen yang dikelola pemerintah Suriah menyatakan Israel berusaha melakukan perang nonkonvensional, termasuk menggunakan serangan siber dan operasi rahasia.Editorial tersebut memperingatkan bahwa setelah 11 bulan konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, ketegangan kini meningkat di Lebanon, meningkatkan risiko dan menciptakan "bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya" untuk kawasan tersebut.Mohammad Nader al-Omari, seorang analis dan pakar hubungan internasional yang berbasis di Damaskus, meyakini eskalasi ini dapat terus berlanjut hingga berhari-hari atau berpekan-pekan, terutama karena motivasi politik di balik konflik ini."Dengan semakin dekatnya pemilihan umum di Amerika Serikat (AS), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki kepentingan untuk menjaga kawasan ini tetap tidak stabil," jelas al-Omari, seraya menambahkan bahwa konflik ini dapat meningkatkan dukungan bagi Donald Trump, calon pilihan Netanyahu pada pemilihan presiden AS mendatang.
Sebuah pesawat pemadam kebakaran memadamkan api yang disebabkan oleh serangan roket dari Lebanon, di dekat perbatasan utara Israel dengan Lebanon, pada 20 September 2024. (Xinhua/JINI/David Cohen)
Asap mengepul dari daerah yang dihantam roket yang diluncurkan dari Lebanon, di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, pada 20 September 2024. (Xinhua/JINI/Ayal Margolin)
Tentara Israel yang terluka dipindahkan ke helikopter di dekat perbatasan utara Israel dengan Lebanon, pada 19 September 2024. (Xinhua/JINI/Ayal Margolin)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Australia akan akui Negara Palestina pada September 2025
Indonesia
•
11 Aug 2025

Taiwan keluarkan peringatan perjalanan untuk 44 negara karena cacar monyet
Indonesia
•
01 Jul 2022

Malaysia berharap Biden selesaikan perang dagang China-AS
Indonesia
•
22 Jan 2021

Israel akan bangun kota baru di dekat Jalur Gaza
Indonesia
•
05 Jan 2022


Berita Terbaru

Afrika tetapkan wabah ebola darurat kesehatan masyarakat yang ancam keamanan kontinental
Indonesia
•
20 May 2026

Sedikitnya 5 orang tewas dalam insiden penembakan di Islamic Center San Diego, AS
Indonesia
•
19 May 2026

Kuba peringatkan serangan militer AS akan timbulkan "pertumpahan darah"
Indonesia
•
19 May 2026

Lebanon sebut jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret lampaui 3.000 orang
Indonesia
•
19 May 2026
