KKP dorong wisata patin perkasa di Tulungagung, Jawa Timur

KKP dorong wisata patin perkasa di Tulungagung, Jawa Timur
Ilustrasi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengusulkan pengembangan wisata perikanan terpadu di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, khususnya untuk komoditas Patin Perkasa (Patin Super Karya Anak Bangsa). (Will Turner on Unsplash)

Nganjuk, Jawa Timur (Indonesia Window) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengusulkan pengembangan wisata perikanan terpadu di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, khususnya untuk komoditas Patin Perkasa (Patin Super Karya Anak Bangsa).

Usulan tersebut disampaikan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja pada kegiatan panen Patin Perkasa pada Kamis (24/9), di Tulungagung, Jawa Timur, yang disampaikannya secara daring.

“Jadi mulai dari indukan, usaha pembenihan, usaha pembesaran, usaha pakannya secara mandiri, usaha pengolahan, dan usaha kuliner, semuanya kita rangkai menjadi satu kesatuan dan kita tetapkan sebagai desa inovasi untuk Patin Perkasa,” ujarnya.

Sjarief juga mengusulkan harmonisasi tanam, yakni pengaturan waktu dalam melakukan penebaran benih agar tidak terjadi panen pada waktu bersamaan yang mengakibatkan turunnya harga.

Pengembangan desa inovasi wisata patin diharapkan menggerakkan sejumlah desa menjadi Unit Pembenihan Rakyat (UPR) untuk mengolah ikan air tawar tersebut menjadi produk-produk yang variatif, misalnya nasi lodho patin.

Selama ini nasi lodho telah menjadi makanan khas Tulungagung yang biasanya berbahan dasar daging ayam.

Sementara itu, Kepala Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI), Joni Haryadi, mengatakan bahwa Patin Perkasa merupakan hasil riset BRPI Sukamandi, Subang, Jawa Barat yang salah satunya berlokasi di Tulungagung.

Berbeda dengan patin biasa, Patin Perkasa memiliki bebagai keunggulan dibandingkan patin pada umumnya, mencakup pertumbuhan yang lebih cepat 16,61-46,42 persen; produktivitas lebih tinggi 11,27–46,41 persen; rasio konversi pakan (FCR) lebih rendah 5,6-16,3 persen; Harga Pokok Produksi (HPP) lebih rendah 4,45–17,92 persen; serta B/C ratio pembesaran lebih tinggi 14,71-48,48 persen.

Supangat, pelaku usaha budidaya patin sejak tahun 2010, yang kini menjadi Sekretaris Asosiasi Pengusaha Cat Fish Indonesia (APCI) Kabupaten Tulungagung, mengatakan Patin Perkasa ini sangat menguntungkan kelompok usahanya.

Laporan: Raihanatul Radhwa

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here