Ulama tekankan makna ‘parenting’ sesungguhnya adalah mendidik diri menjadi orang tua

Pimpinan Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) Bidang SDM dan Dakwah, Ust. Agus Fadilla Sandi, menyampaikan materi dalam seminar pendidikan anak bertema ‘Kupas Tuntas Kaidah dan Metode Mendidik Anak dalam Perspektif Islam’ yang diselenggarakan oleh Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) di Bogor, Ahad (17/5/2026). (Indonesia Window)

Orang tua yang melakukan parenting sesungguhnya juga sedang mendidik dirinya menjadi teladan untuk keluarganya.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Istilah parenting atau ‘pengasuhan’ muncul pada abad ke-20, dan makin viral ketika ilmu psikologi anak dan keluarga berkembang pesat, terutama di dunia Barat.

Dahulu menjadi kewajiban alami yang lumrah dilakukan oleh pasangan ayah dan ibu, parenting kini dipandang sebagai sebuah ilmu dan keterampilan yang terus berkembang dan harus diasah.

Para ahli mendefinisikan parenting sebagai proses untuk membesarkan, memelihara, dan membimbing seorang anak dari masa bayi hingga dewasa secara mandiri. Hal ini melampaui ikatan biologis, mencakup tindakan, tanggung jawab, dan dukungan emosional yang diperlukan untuk mendorong perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional anak.

Makna ini memberikan bobot yang berat kepada para orang tua karena tanggungjawab membentuk karakter suatu generasi ada di tangan mereka.

Dalam seminar pendidikan anak bertema ‘Kupas Tuntas Kaidah dan Metode Mendidik Anak dalam Perspektif Islam’ yang diselenggarakan oleh Ma’had Sabilul Qur’an (MSQ) di Bogor, Ahad (17/5), Ustadz Agus Fadilla Sandi mengajukan definisi parenting yang berbeda.

Parenting sebenarnya adalah proses mendidik diri sendiri menjadi orang tua,” ujarnya, seraya menekankan, orang tua yang melakukan parenting sesungguhnya juga sedang mendidik dirinya menjadi teladan untuk keluarganya.

Menurut pimpinan MSQ Bidang SDM dan Dakwah itu, tidak ada pihak yang paling berperan dalam mendidik anak menjadi generasi yang baik, selain orang tua yang memahami akidah dan syariat Islam.

“Anak adalah salah satu karunia terbesar dari Allah ﷻ, sehingga mendidik mereka adalah amanah yang berat, sehingga bernilai ibadah,” tutur Ust. Agus Fadilla.

Dalam seminar tersebut, dia mengajukan lima karakteristik yang harus dimiliki oleh para orang tua dalam mendidik anak-anak mereka, yakni harus ikhlas, bertakwa, berbekal ilmu agama dan pengetahuan mendidikan anak yang terus ditingkatkan, santun dan pemaaf, serta bertanggungjawab.

Menurut Ust. Agus Fadilla, orang tua harus mendidik anak-anak mereka dengan niat karena mengharap ridho Allah ﷻ, dan bukan hanya memenuhi rasa bangga.

Selanjutnya, dia juga menegaskan, orang tua harus mampu menjadi teladan nyata karena anak-anak pasti akan meniru orang-orang tedekat mereka.

Oleh sebab itu, para orang tua juga harus terus belajar dan memperbarui wawasan, khususnya dalam bidang parenting dan pendidikan anak. Apalagi, para orang tua kini menghadapi tantangan baru dalam mendidik keluarga mereka di era digital dengan kehadiran media sosial, dan arus informasi yang sangat terbuka.

Orang tua juga harus memiliki sifat santun dan pemaaf dalam proses mendidik anak. Kesalahan anak hendaknya dihadapi dengan kelapangan dada, bukan dengan kemarahan yang berlebihan, kekerasan verbal, ataupun kekerasan fisik. Sikap lembut dan santun akan membuat anak merasa aman untuk belajar dari kesalahannya.

Ust. Agus Fadilla menekankan bahwa karena anak adalah titipan Allah ﷻ yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, maka orang tua harus berusaha memberikan perhatian, doa, dan bimbingan terbaik demi keselamatan dunia dan akhirat anak-anaknya.

Dalam pemaparannya tersebut, dia menyampaikan beberapa kisah dari parenting yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang sholih yang difirmankan Allah ﷻ dalam Al-Qur’an yang mulia.

“Dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kita belajar bahwa seorang ayah harus memiliki visi dan mimpi yang dia wariskan kepada anaknya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mewujudkan mimpinya membangun kota Makkah bersama anaknya, Nabi Ismail ‘alaihissalam,” tutur Ust. Agus Fadilla.

Sementara Nabi Ya’kub ‘alaihissalam bertanya kepada anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’. “Ini menunjukkan bahwa orang tua wajib menjaga akidah dan iman Islam anak-anak mereka, apalagi di zaman yang semakin cepat berubah saat ini,” ujarnya.

Laporan: Redaksi

 

 

 

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait