
Sektor manufaktur Indonesia pertahankan ekspansi 26 bulan berturut-turut

Para pekerja mengemas produk buah nanas di pabrik milik PT. Great Giant Pineapple, produsen nanas kalengan berlabel swasta skala besar di Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, pada 5 Juli 2023. (Xinhua/Xu Qin)
Kinerja manufaktur Indonesia mempertahankan pertumbuhannya yang tercermin dari indeks manajer pembelian (purchasing managers' index/PMI) sebesar 51,5 pada Oktober 2023, mengindikasikan sektor manufaktur berada di jalur ekspansi selama 26 bulan berturut-turut.
Jakarta (Xinhua) – Kinerja manufaktur Indonesia mempertahankan pertumbuhannya yang tercermin dari indeks manajer pembelian (purchasing managers' index/PMI) sebesar 51,5 pada Oktober 2023, mengindikasikan sektor manufaktur berada di jalur ekspansi selama 26 bulan berturut-turut. Namun laporan terbaru itu memperingatkan bahwa perlambatan mulai terlihat.Kinerja manufaktur dianggap mengalami ekspansi jika indeks PMI berada di atas angka 50. Namun, indeks PMI manufaktur bulan lalu turun dari September yang berada di angka 52,3 sekaligus menandai ekspansi dengan laju paling lambat sejak Mei 2023.Tingkat produksi manufaktur masih solid namun melambat karena pelemahan permintaan baru dan penurunan penjualan tujuan ekspor."Tingkat kepercayaan diri bisnis dari perusahaan juga terus turun di bawah rata-rata jangka panjang, menandakan penurunan optimisme terkait output 12 bulan mendatang," kata Jingyi Pan, Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence dalam laporannya pagi ini.Perusahaan-perusahaan sedikit mengurangi jumlah tenaga kerja untuk merespons permintaan yang melambat. Kenaikan harga jual barang juga dibatasi sehingga tekanan inflasi konsumen bisa diminimalisir guna mendukung penjualan. Jingyi Pan menyebut inflasi yang terjaga akan menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian.Perlambatan bisnis baru ikut membantu pabrik-pabrik menyelesaikan penumpukan pesanan, menyebabkan penurunan pada tingkat pekerjaan yang belum terselesaikan selama empat bulan. Waktu tunggu pesanan baru juga semakin pendek didukung oleh ketersediaan bahan baku dan efisiensi transportasi.Perlambatan kinerja manufaktur juga tercatat dalam laporan khusus yang diterbitkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia yang menunjukkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober menurun dari bulan sebelumnya tetapi masih di jalur ekspansi.Menurut analisis Kemenperin, produksi manufaktur melambat karena permintaan domestik melemah di tengah kenaikan harga-harga bahan pokok sehingga masyarakat menahan diri untuk berbelanja.Di sisi lain, permintaan dari luar negeri juga menurun karena sejumlah faktor, di antaranya pelemahan ekonomi di beberapa mitra dagang utama Indonesia, tingkat suku bunga pinjaman global yang tinggi dan meningkatnya eskalasi konflik di beberapa wilayah.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia dan Jepang perpanjang perjanjian pertukaran mata uang
Indonesia
•
14 Oct 2021

China temukan cadangan minyak serpih skala besar di ladang minyak utamanya
Indonesia
•
26 Mar 2025

Produksi B30 serap lebih banyak minyak nabati
Indonesia
•
03 Feb 2020

Garuda layani penerbangan langsung Manado-Davao City
Indonesia
•
30 Sep 2019


Berita Terbaru

Investasi Rp1,25 triliun mengalir ke IKN, investor China mulai bangun kawasan terpadu
Indonesia
•
16 Jul 2026

Strategi pengelolaan limbah padat China cakup pengawasan digital hingga capai kota bebas sampah
Indonesia
•
15 Jul 2026

Era mobil BBM berakhir! Hainan resmi larang penjualan kendaraan bermesin bensin dan diesel mulai 2030
Indonesia
•
15 Jul 2026

Naik 73,4 persen! Mobil merek China kuasai 18 persen pasar otomotif Indonesia
Indonesia
•
15 Jul 2026
