Kilang Cilacap Pertamina pasok 60 persen BBM Pulau Jawa

Kilang Cilacap Pertamina pasok 60 persen BBM Pulau Jawa
Ilustrasi. Kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Refinery Unit (RU) IV Cilacap di Jawa Tengah memasok sepertiga kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dan 60 persen kebutuhan di Pulau Jawa. (David Mark from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Refinery Unit (RU) IV Cilacap di Jawa Tengah memasok sepertiga kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dan 60 persen kebutuhan di Pulau Jawa.

Kilang RFCC yang telah beroperasi sejak 30 September 2015  tersebut memiliki nilai investasi 11 triliun rupiah, menurut keterangan dari Pertamina yang diterima di Jakarta, Kamis.

Proyek pengembangan Kilang Cilacap menjadi bagian dari peta jalan (road map) pengembangan kilang Pertamina dalammemenuhi kebutuhan pasar dan tuntutan teknologi di masa mendatang.

Manajer Komunikasi RU IV Cilacap, Hatim Ilwan, menjelaskan RFCC merupakan unit kilang yang memanfaatkan teknologi katalis untuk mengonversi minyak berat atau residu, baik atmosferik maupun vacuum residue oi,l menjadi produk yang lebih bernilai.

“Dalam hal ini utamanya gasoline dan beberapa produk lain seperti LPG (Liquified Petroleum Gas) dan propylene,” ujarnya.

Dengan beroperasinya RFCC, produksi premium dari Kilang Cilacap naik dari 61.000 barrel per hari menjadi 91.000 barrel per hari.

“Angka tersebut mampu mendongkrak total kapasitas produksi RU IV sebesar 17,8 persen hingga mencapai 348 ribu barrel per hari. Kondisi ini menumbuhkan optimisme Pemerintah Indonesia untuk terbebas dari impor BBM,” kata Hatim.

RFCC mengolah Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) sebanyak 62.000 barrel per hari dari Crude Distillation Unit (CDU) II menjadi produk bernilai tinggi.

Diantaranya produk tersebut adalah High Octane Mogas Component (HOMC) dengan kadar oktan lebih dari 93, dan merupakan komponen minyak untuk meningkatkan kadar oktan pada premium dengan Research Octane Number (RON) 88, peningkatan produk LPG dan produk baru propylene.

Hatim menerangkan, saat resmi beroperasi 100 persen, unit RFCC Cilacap mampu memproduksi HOMC sekitar 37.000 barel per hari, LPG 1.066 ton per hari, dan 430 ton produk propylene per hari.

“Sebagian besar produksi HOMC diproses lebih lanjut menjadi Premium. Kelebihan HOMC dari Kilang Cilacap adalah bisa digunakan untuk memproduksi Pertamax dan Premium di kilang-kilang lain,” jelas Hatim.

Saat ini Pertamina tengah membangun Kilang Langit Biru Cilacap, dan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau Rencana Induk Pengembangan Kilang Minyak.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here