
Media: Industri otomotif AS alami kemunduran yang semakin cepat di sektor EV

Sebuah pikap listrik Ford F-150 Lightning dipamerkan dalam ajang North American International Auto Show (NAIAS) 2022 di Detroit, Amerika Serikat, pada 14 September 2022. (Xinhua/Michael Strong)
Keputusan Ford Motor pada pekan ini untuk menghentikan sebuah proyek kendaraan listrik (electric vehicle/EV) masa depan yang sebelumnya sangat digembar-gemborkan merupakan tanda bahwa industri otomotif Amerika Serikat (AS) mengalami kemunduran yang semakin jauh di sektor EV.
New York City, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Keputusan Ford Motor pada pekan ini untuk menghentikan sebuah proyek kendaraan listrik (electric vehicle/EV) masa depan yang sebelumnya sangat digembar-gemborkan merupakan tanda bahwa industri otomotif Amerika Serikat (AS) mengalami kemunduran yang semakin jauh di sektor EV, lapor The Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (22/8).Produsen mobil dari Dearborn, Michigan, tersebut pada Rabu (21/8) mengatakan pihaknya membatalkan rencananya untuk sport-utility vehicle (SUV) listrik yang dirancang untuk keluarga, yang sebelumnya disebut-sebut CEO Ford Jim Farley sebagai "kereta peluru yang dipersonalisasi". Langkah ini menambah rentetan berita dari para produsen mobil mengenai penundaan atau pembatalan investasi dalam model, pabrik, dan proyek baterai EV.General Motors, Volkswagen, Mercedes, dan sejumlah produsen mobil lainnya juga telah membatasi ambisi EV mereka dalam beberapa bulan terakhir. "Secara keseluruhan, rencana-rencana yang ditarik kembali ini merupakan pengakuan bahwa investasi besar yang dipaparkan pada awal dekade ini melebihi minat konsumen untuk sepenuhnya beralih ke EV," sebut laporan itu.Meskipun berbagai survei menunjukkan bahwa separuh dari konsumen AS tertarik untuk membeli mobil listrik, harga yang relatif tinggi dan kekhawatiran tentang ketersediaan pengisi daya membuat banyak orang ragu. Penjualan EV di AS dan sejumlah kawasan lainnya masih terus tumbuh, tetapi laju pertumbuhannya melambat secara signifikan, meskipun banyak model baru diluncurkan ke pasar, menurut laporan tersebut."Menunda beberapa investasi EV akan menghemat uang dan memberi waktu kepada produsen mobil untuk menurunkan biaya baterai dan pengeluaran terkait EV lainnya, kata para analis. Langkah-langkah ini juga akan berdampak terhadap pemasok suku cadang utama, yang harus menyesuaikan bisnis mereka," papar laporan tersebut.Biaya baterai sangat tinggi sehingga sebagian besar produsen mobil besar mengalami kerugian dari penawaran EV mereka. Bisnis EV Ford diperkirakan akan mengalami kerugian sebesar sekitar 5 miliar dolar AS tahun ini. Pada kuartal yang berakhir 30 Juni lalu, perusahaan tersebut mengalami kerugian dengan rata-rata sekitar 44.000 dolar AS per EV yang terjual, imbuh laporan tersebut.*1 dolar AS = 15.579 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Industri mobil Jerman tolak tarif UE terhadap kendaraan listrik China
Indonesia
•
07 Jul 2024

FAO: Harga pangan dunia turun tipis pada November 2022
Indonesia
•
03 Dec 2022

Ekspor tekstil dan pakaian jadi China catat pertumbuhan stabil pada 2022
Indonesia
•
06 Feb 2023

Penjualan mobil bekas di China melonjak pada 2021
Indonesia
•
23 Jan 2022


Berita Terbaru

Rusia perpanjang larangan ekspor bensin hingga akhir 2026 demi jaga pasokan domestik
Indonesia
•
26 Jul 2026

Indonesia siap sambut era taksi udara, Whitesky pesan 60 unit eVTOL buatan China
Indonesia
•
25 Jul 2026

Intel raup pendapatan 288 triliun rupiah dalam tiga bulan, permintaan AI terus melonjak
Indonesia
•
24 Jul 2026

LiuGong resmi bangun pabrik alat berat di Karawang, penuhi kebutuhan nasional 9.000 unit per tahun
Indonesia
•
23 Jul 2026
