
Feature – Petani Lebanon serukan aksi darurat untuk atasi kekeringan parah

Foto yang diabadikan pada 15 November 2024 ini menunjukkan para petani memetik buah zaitun di Kokba, Lebanon. (Xinhua/Taher Abu Hamdan)
Kekeringan terburuk dalam sejarah melanda Lebanon akhir-akhir ini, berdampak pada kurangnya curah hujan yang parah sehingga menyebabkan level air tanah di negara yang dilanda perang ini turun, mata air mengering, dan tanaman mati.
Beirut, Lebanon (Xinhua/Indonesia Window) – Di sebuah ladang terpencil di Lebanon selatan, seorang petani bernama Salem Abdallah (60), berlutut di samping tanahnya yang retak dan kering, sambil mengusap-usap debu dengan jarinya. Dia menatap langit, mencari tanda-tanda hujan, tetapi awan tetap tidak tampak."Tahun ini, Bumi seakan berbalik melawan kami," keluhnya, "Saat ini, yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa," sebut Abdallah.Seperti ribuan petani lainnya di seluruh Lebanon, Abdallah sedang menghadapi salah satu kekeringan terburuk dalam sejarah akhir-akhir ini. Kurangnya curah hujan yang parah telah menyebabkan turunnya level air tanah di negara yang dilanda perang ini, mata air mengering, dan tanaman mati.Kekeringan yang parah ini tampak jelas dari data yang ada. Menurut laporan meteorologi dari Bandar Udara Internasional Rafic Hariri di Beirut, tingkat curah hujan pada musim dingin ini berkurang hampir separuhnya dibandingkan dengan tahun lalu. Pada periode 25 Januari hingga 31 Januari, curah hujan turun dari 520 mm menjadi hanya 242 mm di Beirut, dari 540 mm menjadi 247 mm di Tripoli, dan dari 285 mm menjadi 149 mm di Zahle.Ahli geologi Lebanon Jamal Khair menjelaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar nasib buruk, ini merupakan perubahan iklim yang sedang terjadi."Suhu Bumi sudah melampaui 1,5 derajat (Celsius) di atas tingkat pra-industri," ujarnya kepada Xinhua. "Ini menyebabkan pola cuaca yang tidak menentu, kekeringan yang berkepanjangan, dan gelombang panas yang ekstrem. Kekurangan hujan di Lebanon secara langsung merupakan akibat dari perubahan global ini."
Foto yang diabadikan pada 23 Oktober 2024 ini menunjukkan sejumlah orang memetik buah zaitun di Hasbaya, Lebanon. (Xinhua/Taher Abu Hamdan)
Sejumlah petani memanen gandum di Marjeyoun, Lebanon, pada 29 Mei 2024. (Xinhua/Ali Hashisho)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Good Doctor dan LSPR luncurkan serial pendidikan kesehatan bagi anak muda
Indonesia
•
30 Oct 2021

UNHCR: Dalam 5 tahun, sekitar 1 juta pengungsi Sudan Selatan pulang ke negara mereka
Indonesia
•
02 Nov 2023

Somalia luncurkan bank darah untuk selamatkan jiwa
Indonesia
•
08 Aug 2023

China dan ASEAN catat kerja sama pendidikan yang lebih erat
Indonesia
•
23 Aug 2024


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
