
Kasus kanker serviks dunia diproyeksikan tembus 1,08 juta pada 2050, kematian capai 522.000

Tiga saudari kembar tiga berpose untuk difoto di pusat pemeriksaan kanker payudara dan kanker serviks gratis di pusat perbelanjaan Arcades di Lusaka, Zambia, pada 31 Oktober 2020. (Xinhua/Martin Mbangweta)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian terbaru menemukan kasus dan angka kematian akibat kanker serviks di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat masing-masing sebesar 20,2 persen dan 39,3 persen hingga 2050, meskipun penyakit tersebut sebagian besar dapat dicegah.
Para peneliti dari Australia dan negara-negara lain menganalisis angka kejadian kanker serviks, kematian, dan kerugian kesehatan di 204 negara dan kawasan selama periode 1990 hingga 2023, serta membuat pemodelan tren kasus penyakit tersebut hingga 2050, menurut ringkasan studi yang dipublikasikan di situs jejaring Australian Science Media Center pada Selasa (3/11).
Diperkirakan terdapat 887.000 kasus baru dan 369.000 kematian di seluruh dunia pada 2023.
Berdasarkan studi pemodelan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, jumlah kasus tahunan pada 2050 diperkirakan meningkat 20,2 persen dibandingkan tingkat pada 2024, menjadi 1,08 juta kasus.
Sementara itu, jumlah kematian diproyeksikan naik 39,3 persen menjadi 522.000.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Afrika sub-Sahara diperkirakan mengalami peningkatan terbesar.
Jumlah kasus diproyeksikan naik 88,7 persen, sementara jumlah kematian meningkat 95,4 persen, hingga mencapai sekitar 206.000 kematian pada 2050.
Studi tersebut menemukan bahwa, jika tren saat ini terus berlanjut, tidak satu pun dari tujuh kawasan global yang dievaluasi diperkirakan mampu mencapai target eliminasi kanker serviks pada 2050 yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni menekan angka kejadian kanker serviks hingga kurang dari empat kasus per 100.000 perempuan.
Para penulis studi itu menyerukan perluasan akses terhadap vaksinasi human papillomavirus (HPV), skrining, dan pengobatan. Namun, akses terhadap langkah-langkah tersebut masih sangat bervariasi di berbagai belahan dunia.
Menurut studi tersebut, pada 2023, tingkat kejadian kanker serviks yang disesuaikan berdasarkan usia di negara-negara berpenghasilan rendah lebih dari empat kali lipat dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi.
Adapun tingkat kematian akibat kanker serviks di negara-negara berpenghasilan rendah lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Swedia buang 8,5 juta dosis vaksin COVID-19
Indonesia
•
13 Feb 2023

‘Heat dome’ landa AS, 160 juta warga terancam suhu ekstrem saat libur Fourth of July
Indonesia
•
03 Jul 2026

China akan fasilitasi implementasi kesepakatan keanekaragaman hayati PBB
Indonesia
•
21 Dec 2022

Hingga 60 orang diduga tewas akibat gempa dahsyat di Filipina
Indonesia
•
01 Oct 2025


Berita Terbaru

Belajar bahasa Mandarin membuka pintu studi dan karier bagi generasi muda Indonesia
Indonesia
•
04 Nov 2026

Feature – Menelusuri warisan pedagang Shanxi, pemuda Indonesia belajar nilai integritas dan kepercayaan
Indonesia
•
04 Nov 2026

Feature – China makin dilirik pelajar Indonesia, beasiswa dan kualitas pendidikan jadi pertimbangan
Indonesia
•
02 Nov 2026

Feature – Kuliah vokasi di China, jalan baru anak muda Indonesia menuju karier industri
Indonesia
•
01 Nov 2026
