‘Heat dome’ landa AS, 160 juta warga terancam suhu ekstrem saat libur Fourth of July

Seorang wanita mengendarai skuter mobilitas di tengah gelombang panas di Sacramento, California, Amerika Serikat, pada 7 Juli 2024. (Xinhua/Wu Xiaoling)

New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Dari Midwest hingga East Coast, gelombang panas berbahaya sedang menyebar di lebih dari separuh wilayah Amerika Serikat (AS), meningkatkan risiko tercapainya suhu tinggi pemecah rekor selama akhir pekan Hari Kemerdekaan AS, yang dikenal sebagai ‘Fourth of July’ dan merupakan salah satu periode liburan tersibuk di negara itu.

Para pejabat setempat merespons situasi tersebut dengan membuka pusat-pusat pendinginan, menyesuaikan penyelenggaraan acara publik, dan memperluas layanan darurat seiring berkumpulnya banyak orang untuk menyaksikan pesta kembang api, festival, dan perayaan Hari Kemerdekaan AS.

Hampir 160 juta warga Amerika terdampak fenomena kubah panas (heat dome) menyengat yang menyerang 30 negara bagian hingga akhir pekan ini, papar Badan Cuaca Nasional (National Weather Service/NWS) AS.

Gelombang panas tersebut dipicu oleh fenomena kubah panas, yakni sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di suatu wilayah selama beberapa hari. Tingginya tingkat kelembapan juga meningkatkan risiko kesehatan karena membuat tubuh manusia lebih sulit mendinginkan diri melalui proses berkeringat.

Di New York City, para pejabat membuka stasiun-stasiun penyemprot kabut air di luar ruangan dan mengerahkan kendaraan-kendaraan pendingin keliling untuk menyediakan air, tabir surya, dan layanan pemeriksaan kesehatan.

"Ini kondisi yang sangat berbahaya," kata Wali Kota New York City Zohran Mamdani dalam taklimat pers. Suhu udara di kota itu diperkirakan melampaui 100 derajat Fahrenheit (37,78 derajat Celsius) pada Kamis (2/7) dan Jumat (3/7), dengan indeks panas diperkirakan mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Menurut data New York City, cuaca panas secara rata-rata menyebabkan sekitar 500 kematian prematur di kota itu setiap musim panas.

Panas ekstrem di Philadelphia memaksa perayaan untuk Paus Leo XIV di National Constitution Center yang dijadwalkan pada Jumat dipindahkan ke dalam ruangan. Philadelphia juga mengurangi jam operasional festival penggemar Piala Dunia menjelang pertandingan antara Paraguay melawan Prancis pada Sabtu (4/7).

Washington DC mengeluarkan peringatan panas ekstrem hingga Ahad (5/7), seiring ratusan ribu pengunjung diperkirakan akan menghadiri berbagai acara liburan Hari Kemerdekaan di ibu kota AS tersebut. Suhu udara pada Sabtu diprakirakan mencapai 101 derajat Fahrenheit (38,33 derajat Celsius), melampaui rekor suhu tertinggi Washington DC untuk tanggal tersebut, yakni 100 derajat Fahrenheit yang tercatat pada 1919.

Banyak daerah lain, termasuk Boston di Negara Bagian Massachusetts dan Raleigh di Negara Bagian North Carolina, juga membuka pusat-pusat pendinginan dan memperluas sumber daya layanan kesehatan masyarakat.

Gelombang panas ini terjadi saat wilayah barat AS juga menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang kering dan angin kencang telah memicu karhutla di Utah dan Colorado bagian selatan.

Sekitar 2 juta orang berada di bawah peringatan kebakaran pada Senin (29/6) di kawasan Four Corners, yang meliputi negara bagian Arizona, Colorado, New Mexico, dan Utah, serta sejumlah wilayah Wyoming, South Dakota, dan Nebraska, lapor NBC News.

Puluhan kebakaran besar masih berkobar seantero AS, menghanguskan lebih dari 580.000 ekar (sekitar 234.700 hektare) lahan, sebut Pusat Koordinasi Antarlembaga Nasional (National Interagency Coordination Center) AS.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait