
Feature – China makin dilirik pelajar Indonesia, beasiswa dan kualitas pendidikan jadi pertimbangan

Sejumlah pengunjung berinteraksi dengan salah satu perwakilan universitas di gelaran 2026 11th Indonesia HSK Study in China and Career Expo yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, pada 1 November 2026. (Xinhua/Ni Luh Anggela De Merici S.)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Ketertarikan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri mulai tumbuh sejak usia muda.
Bagi sebagian pelajar Indonesia, China kini menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dipertimbangkan, seiring dengan perkembangan negara tersebut di bidang pendidikan, teknologi, dan ekonomi.
Ketertarikan itu terlihat dalam gelaran 2026 11th Indonesia HSK Study in China and Career Expo yang menghadirkan puluhan institusi pendidikan dan perusahaan dari China.
Di antara para pengunjung yang memadati pameran, terdapat pelajar yang mulai mencari universitas tujuan hingga orang tua yang mempersiapkan pendidikan tinggi anak-anak mereka.
Dua pelajar dari Sekolah Abdi Siswa Bintaro, Sinta (15) dan Kezia (15), menjadi bagian dari para pengunjung yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari informasi mengenai perguruan tinggi di China.
Keduanya mulai mempertimbangkan negara itu sebagai tujuan melanjutkan pendidikan jenjang sarjana (S1), termasuk mencari informasi mengenai peluang beasiswa.
Kezia mengatakan bahwa perkembangan China di pasar global menjadi salah satu alasan yang mendorong ketertarikannya untuk menempuh pendidikan di negara tersebut. Selain itu, kualitas pendidikan yang ditawarkan berbagai universitas di China juga menjadi daya tarik tersendiri.
"China kan sekarang lagi mendominasi pasar, ya. Jadi kalau ada kesempatan kenapa nggak diambil. Pendidikan di China juga bagus-bagus, jadi kami tertarik," ujar Kezia di Jakarta Pusat pada Ahad (1/11).
Meski demikian, keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri tetap disertai sejumlah pertimbangan.
Bersama Sinta, Kezia mulai mencari tahu persyaratan kemampuan bahasa Mandarin, khususnya sertifikasi Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK), serta biaya pendidikan dan ketersediaan beasiswa.
Bagi keduanya, memperoleh informasi yang lengkap menjadi langkah awal sebelum menentukan universitas tujuan. Terlebih, pendidikan di luar negeri membutuhkan persiapan finansial dan akademis yang tidak sedikit.
Ketertarikan serupa juga ditunjukkan Lerzia (15), pelajar dari SMK Pelita 4.
Dia mengatakan telah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan ke China setelah menyelesaikan sekolah menengah kejuruan.
Menurut Lerzia, perkembangan China di bidang teknologi, seni, dan tradisi menjadi daya tarik yang membuatnya ingin mengenal lebih jauh negara tersebut melalui pendidikan tinggi.
Dalam menentukan universitas, dia mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari kualitas pengajaran, pilihan program studi, lokasi kampus, hingga fasilitas asrama dan peluang beasiswa.
Dari sisi keluarga, persiapan pendidikan ke China juga melibatkan pertimbangan yang tidak kalah penting.
Aming (52), salah satu orang tua pengunjung pameran, mengatakan dirinya datang untuk mencari informasi mengenai perguruan tinggi bagi anak keduanya yang saat ini duduk di kelas dua sekolah menengah atas.
Ketertarikan keluarganya terhadap China tidak terlepas dari hubungan kekerabatan dan pengalaman pendidikan lintas generasi.
Dia memiliki sejumlah kerabat yang tinggal di Xiamen dan Quanzhou, sementara ibunya pernah menempuh pendidikan di Yunnan.
Selain faktor keluarga, dia juga melihat China memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan.
Dalam menentukan universitas bagi anaknya, Aming terlebih dahulu mempertimbangkan provinsi dan kota tempat kampus tersebut berada, sebelum melihat peringkat universitas serta kesesuaiannya dengan kemampuan akademis anaknya.
Peluang masa depan
Meningkatnya ketertarikan generasi muda Indonesia terhadap pendidikan di China juga tercermin dari perkembangan pembelajaran bahasa Mandarin dan partisipasi masyarakat dalam ujian HSK.
Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia Chen Wu menyampaikan bahwa lebih dari 30.000 peserta di Indonesia mengikuti ujian HSK pada 2025.
Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia berdasarkan jumlah peserta ujian HSK.
Menurut Chen, perkembangan tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap bahasa Mandarin sekaligus meningkatnya pengakuan terhadap manfaat penguasaan bahasa tersebut.
Dia menilai pertukaran pendidikan dan budaya memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan China, terutama melalui interaksi antargenerasi muda.
"Pertukaran budaya merupakan bagian penting dari hubungan Indonesia-China. Interaksi antargenerasi muda menjadi kekuatan dalam menjaga persahabatan kedua negara," ujar Chen dalam pembukaan 2026 11th Indonesia HSK Study in China and Career Expo di Jakarta Pusat pada Ahad.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Chinese Testing International (CTI) Liu Xiaolong mengatakan pameran tahun ini menghadirkan 21 universitas ternama dari China serta sejumlah perusahaan, termasuk Bank of China dan HSK Mock.
Pameran tersebut tidak hanya menyediakan informasi mengenai kesempatan melanjutkan pendidikan di China, tetapi juga mempertemukan pelajar Indonesia dengan perusahaan-perusahaan yang membuka peluang kerja.
Liu mengatakan bahwa selama 11 tahun penyelenggaraannya di Indonesia, pameran tersebut telah menjadi wadah yang menghubungkan aspirasi generasi muda dengan kesempatan pendidikan dan karier, sekaligus mencerminkan semakin eratnya pertukaran pendidikan kedua negara.
Dia menambahkan bahwa sejak pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada 2001, ujian HSK telah memiliki 56 pusat ujian dengan jumlah peserta kumulatif lebih dari 300.000 orang.
Di tengah perkembangan kerja sama ekonomi, perdagangan, infrastruktur, ekonomi digital, dan pembangunan hijau antara Indonesia dan China, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang menguasai bahasa Mandarin sekaligus memiliki kompetensi profesional juga semakin relevan.
Ketua Pelaksana Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) Jakarta Arifin Zain mengatakan bahwa penguasaan bahasa Mandarin dan keterampilan profesional merupakan kombinasi penting bagi generasi muda yang ingin mengambil bagian dalam berbagai bidang kerja sama kedua negara.
Menurutnya, hubungan antara pendidikan dan peluang karier perlu diperkuat agar generasi muda Indonesia memiliki akses yang lebih luas terhadap kesempatan pendidikan dan pekerjaan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Sekolah Terintegrasi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nandana Aditya Bhaswara menilai pameran tersebut bukan sekadar ajang pendidikan dan karier, melainkan juga ruang pertemuan gagasan, kesempatan, dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan China.
Dia berharap pertemuan tersebut dapat mendorong kerja sama yang lebih konkret, antara lain dalam pengembangan pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah, peningkatan kapasitas guru, pertukaran pengalaman antarsekolah, akses informasi beasiswa, serta kolaborasi pembelajaran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Panda China tampil di depan publik jelang Piala Dunia 2022 Qatar
Indonesia
•
18 Nov 2022

Sekjen PBB sebut relokasi penduduk Gaza sangat berbahaya
Indonesia
•
16 Oct 2023

Feature – Anak-anak Gaza berbagi pengalaman hidup memilukan akibat perang
Indonesia
•
22 Nov 2024

Korban tewas dari kapal migran yang karam di Italia bertambah jadi 62 orang
Indonesia
•
28 Feb 2023


Berita Terbaru

Feature – Kuliah vokasi di China, jalan baru anak muda Indonesia menuju karier industri
Indonesia
•
01 Nov 2026

New York batasi ‘chatbot’ AI untuk anak di bawah 18 tahun, ini fitur yang dilarang
Indonesia
•
30 Oct 2026

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026
