Studi: Karhutla dahsyat meningkat, hampir separuh bencana terburuk terjadi dalam 10 tahun terakhir

Foto yang bersumber dari Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO) pada 1 Juli 2022 ini menunjukkan kebakaran hutan dan lahan di Australia. (Xinhua/CSIRO)
Penelitian 44 tahun menunjukkan karhutla dahsyat meningkat global dan 43 persen bencana terburuk terjadi dalam 10 tahun terakhir.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dahsyat meningkat secara global, dengan 43 persen dari bencana-bencana terburuk tercatat hanya dalam 10 tahun terakhir, seiring perubahan iklim membuat musim kebakaran menjadi lebih panas, lebih kering, dan lebih panjang, menurut sebuah studi yang dipimpin oleh Australia.Studi tersebut menganalisis data bencana global selama 44 tahun dan menemukan bahwa bencana ekonomi meningkat lebih dari empat kali lipat, sementara bencana fatal yang menyebabkan 10 atau lebih kematian meningkat tiga kali lipat sejak 1980, dengan peningkatan yang sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat (3/10) oleh Universitas Tasmania, Australia, yang memimpin studi ini.Level kerusakan mencapai puncaknya pada 2018, dengan total nilai mencapai 28,3 miliar dolar AS secara global, lima kali lipat dari rata-rata selama 44 tahun, dan separuh dari semua peristiwa kebakaran dahsyat yang menimbulkan kerugian lebih dari 43 miliar dolar AS sejak 1980 terjadi dalam 10 tahun terakhir, papar studi yang diterbitkan dalam jurnal Science itu.*1 dolar AS = 16.612 rupiah"Ini bukan hanya kebakaran yang lebih besar, ini adalah kebakaran yang terjadi di bawah kondisi cuaca yang semakin ekstrem sehingga membuatnya tidak dapat dihentikan," kata Calum Cunningham, seorang peneliti di Pusat Kebakaran Universitas Tasmania."Kita sedang menyaksikan perubahan mendasar dalam cara karhutla memengaruhi masyarakat," ujar Cunningham, penulis utama studi ini.Para peneliti menemukan bahwa hutan tipe Mediterania di Eropa selatan, California, Australia selatan, dan Chile, serta hutan konifer beriklim sedang di Amerika Utara bagian barat, mengalami bencana karhutla dengan tingkat yang jauh melebihi luas wilayahnya.Studi ini menunjukkan bahwa separuh dari semua bencana terjadi dalam kondisi cuaca ekstrem paling parah yang pernah tercatat, yang kini menjadi jauh lebih lazim terjadi, dengan cuaca yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran parah meningkat lebih dari dua kali lipat, kekeringan atmosfer meningkat 2,4 kali lipat, dan kekeringan parah meningkat 3,4 kali lipat sejak 1980.Mengingat Australia merupakan pusat karhutla global, studi ini menyerukan strategi adaptasi komprehensif yang mendesak dengan menggabungkan penanganan kebakaran tradisional dengan pendekatan modern, termasuk pengurangan bahan bakar, peningkatan standar bangunan, dan perencanaan evakuasi.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Media: Nissan akan akhiri pembicaraan merger dengan Honda
Indonesia
•
07 Feb 2025

Ongkos haji turun 39 persen untuk jamaah internasional, kata menteri Saudi
Indonesia
•
23 Jun 2023

Survei ungkap warga Selandia Baru sambut baik kembalinya pariwisata
Indonesia
•
20 Jul 2023

China rilis rencana lima tahun nasional pertama tentang logistik modern
Indonesia
•
16 Dec 2022
Berita Terbaru

Presiden Meksiko sebut negaranya akan terus kirim minyak ke Kuba
Indonesia
•
30 Jan 2026

Teknologi PaMER hasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi, rendah karbon
Indonesia
•
30 Jan 2026

Megafactory Tesla di Shanghai kirim 2.000 lebih unit baterai megapack pada 2025
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ekonomi makin tak menentu, permintaan emas dunia pecahkan rekor
Indonesia
•
30 Jan 2026
