Kajian Ilmiah – Rezeki sudah dijamin, mengapa kita masih cemas?

Ustadz Dr. Abdullah Ahmad Zawawi, B.IL CIFP حَفِظَهُ اللهُ, saat memberi kajian ilmiah tentang aqidah, rezeki dan keberkahan di Masjid Istiqomah, IKEA Sentul City, pada Sabtu (17/10). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjamin rezeki bagi hamba-hambaNya, namun mereka tetap harus bekerja, dan harta bukanlah tujuan akhir. Aqidah mengajarkan manusia untuk mencari nafkah dengan cara yang benar, mensyukuri apa yang diterima, dan menggunakan hartanya sebagai amanah. Rezeki yang berkah bukan semata-mata yang paling banyak, melainkan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan orang-orang di sekitarnya.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) –  Kalau rezeki sudah dijamin Allah ﷻ, untuk apa manusia masih bekerja?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya menentukan cara seseorang mencari nafkah: dengan tenang atau penuh kecemasan, dengan cara yang halal atau tergoda mengambil jalan pintas.

Pertanyaan itulah yang mengantar Ustadz Dr. Abdullah Ahmad Zawawi, B.IL CIFP حَفِظَهُ اللهُ, mengurai hubungan antara aqidah dan rezeki dalam ceramahnya di Masjid Istiqomah, IKEA Sentul City, pada Sabtu (17/10).

Dr. Abdullah Zawawi mengajak jamaah meninjau kembali ukuran rezeki. Sebab, ketika rezeki hanya dipahami sebagai uang dan harta, banyak nikmat lain luput dari hitungan, seperti kesehatan, keluarga yang sholih dan sholihah, ilmu yang bermanfaat, waktu yang luang dan penuh dengan kegiatan positif, hingga kesempatan untuk beribadah.

Dari sana, pembahasan bergerak ke akar yang lebih dalam: keyakinan kepada Allah ﷻ.

Aqidah, menurut Dr. Abdullah, bukan sekadar perkara yang diyakini di dalam hati. Dia membentuk perilaku, termasuk cara seseorang bekerja, memperlakukan orang lain, dan menggunakan harta.

Dalam urusan ekonomi, keyakinan bahwa Allah ﷻ adalah pemberi rezeki semestinya menumbuhkan kerendahan hati. Manusia dapat bekerja dan menjadi perantara rezeki bagi sesamanya, tetapi bukan pemilik mutlak penghidupan orang atau makhluk lain.

Harta pun tidak memiliki kepemilikan yang abadi. Seseorang bisa mengumpulkannya selama bertahun-tahun, tetapi tak bisa dibawanya ke liang lahat ketika meninggal.

Selama hidup, harta adalah amanah yang harus dikelola dengan benar—termasuk dengan menunaikan zakat dan memberikan hak kepada mereka yang berhak.

Zakat, dalam penjelasan Dr. Abdullah, bukan semata-mata pengurangan simpanan. Dia mengingatkan bahwa sebagian harta memang harus disalurkan kepada orang lain.

Cara pandang ini mengubah arti ‘cukup’. Rezeki yang sedikit bisa terasa cukup dan membawa ketenangan; rezeki yang berlimpah dapat menjadi jalan untuk memberi manfaat lebih luas. Keberkahan bukan hanya soal bertambahnya jumlah, melainkan kebaikan yang menetap dalam apa yang dimiliki.

Namun, percaya bahwa rezeki datang dari Allah ﷻ bukan alasan untuk berpangku tangan. Manusia tetap diperintahkan bekerja, belajar, dan mencari peluang. Ikhtiar dan tawakal berjalan beriringan: seseorang melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, sambil menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah ﷻ.

Keyakinan itu juga menjaga seseorang agar tak menghalalkan segala cara. Kecemasan tentang kebutuhan hidup dapat menggoda orang mengejar hasil dengan jalan pintas.

Dr. Abdullah mengingatkan bahwa rezeki perlu dicari melalui cara yang diridhoi Allah ﷻ. Banyaknya penghasilan bukan satu-satunya ukuran, karena cara memperolehnya dan bagaimana harta itu digunakan turut menentukan nilainya.

Dalam menjalani hidup, setiap manusia seharusnya menerima bagian masing-masing tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain.

Ridho dan qana’ah bukan berarti menyerah atau berhenti berusaha. Keduanya membantu seseorang menghargai apa yang dimiliki, tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tidak membiarkan iri menguasai hati.

Istighfar, infak, takwa, dan salat juga dibahas sebagai amalan yang menjadi sebab keberkahan. Infak, misalnya, tampak mengurangi harta dalam hitungan biasa. Namun, seorang muslim memberi karena Allah ﷻ, bukan menjadikan sedekah sebagai transaksi agar segera kaya. Kebaikan yang lahir darinya dapat kembali dalam bentuk yang beragam.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang jaminan rezeki membawa jamaah pada pemahaman yang lebih utuh: bekerja tetap perlu, tetapi harta bukan tujuan akhir. Aqidah mengajarkan manusia untuk mencari nafkah dengan cara yang benar, mensyukuri apa yang diterima, dan menggunakan hartanya sebagai amanah.

Rezeki yang berkah bukan semata-mata yang paling banyak, melainkan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan orang-orang di sekitarnya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait