
Indonesia–China perkuat pendidikan vokasi, bidik kebutuhan industri masa depan

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Brian Yuliarto berbicara dalam sebuah wawancara dengan Xinhua di Jakarta pada 13 Oktober 2026. (Xinhua/Cen Yunpeng)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China mempercepat kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasi (TVET) agar selaras dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia serta meningkatnya permintaan di sektor industri.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia (RI) Brian Yuliarto dalam wawancara dengan Xinhua pada Selasa (13/10).
Kolaborasi antara institusi dari kedua negara berkembang pesat, menyediakan pengembangan kapasitas yang terarah bagi para mahasiswa Indonesia, kata Brian.
"Beberapa perguruan tinggi vokasi kami menjalin kerja sama yang erat, baik dengan industri maupun dengan universitas-universitas di China," ungkapnya, seraya menambahkan bahwa sinergi ini memungkinkan mahasiswa memperoleh pelatihan yang disesuaikan dengan tolok ukur internasional.
Penyelarasan antara pendidikan dan industri ini secara langsung mendukung agenda nasional Asta Cita (Delapan Tujuan) yang dirumuskan oleh Presiden RI Prabowo Subianto, yang memprioritaskan ketahanan pangan, ketahanan energi, elektronik, semikonduktor, dan hilirisasi mineral.
Seiring dengan meningkatnya kehadiran perusahaan-perusahaan China di Indonesia, negara ini berharap industri-industri tersebut dapat secara aktif mempekerjakan para lulusan dari lembaga pendidikan vokasi setempat, ujarnya.
Membahas Konferensi Pengembangan Pendidikan Vokasi dan Teknik Dunia (World Vocational and Technical Education Development Conference) 2026 yang dijadwalkan dibuka pada Kamis (15/10) di Tianjin, China, Brian mengatakan Indonesia berupaya memperluas kemitraan antarlembaga serta meningkatkan kapasitas peserta didik agar memenuhi standar industri China.
"Ketika kita memenuhi standar China, tentu saja kita dapat memenuhi standar dunia," kata Brian, seraya menyoroti jangkauan global industri-industri China.
Menanggapi pesatnya perkembangan teknologi global, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, pembelajaran mesin, dan energi hijau, Brian menyoroti peran utama China sebagai salah satu pemimpin dalam pengembangan teknologi, seraya menambahkan bahwa kemitraan dengan institusi China membantu Indonesia menyesuaikan sistem pendidikannya dengan tren global yang berubah dengan cepat.
Perusahaan-perusahaan China telah mendukung universitas-universitas Indonesia dengan menyumbangkan peralatan canggih dan membangun laboratorium bersama. Ke depannya, Indonesia berencana untuk memperluas program gelar ganda (double degree), pertukaran mahasiswa dan dosen, serta program profesor tamu, ujarnya.
Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, pembangunan ekonomi berkualitas tinggi harus bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Menggabungkan sumber daya alam dan jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan keahlian teknologi China menawarkan landasan yang kokoh bagi kemajuan industri bersama, yang dimulai dari penelitian di tingkat universitas, kata Brian.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim SAR akhiri pencarian pesawat Sriwijaya Air
Indonesia
•
22 Jan 2021

Indonesia-Hongaria sepakat pembentukan dana investasi bersama
Indonesia
•
17 Feb 2021

Merek mobil listrik China GAC Aion resmi masuk ke pasar Indonesia
Indonesia
•
04 Apr 2024

Arab Saudi izinkan penumpang Indonesia masuk langsung mulai 1 Desember
Indonesia
•
26 Nov 2021


Berita Terbaru

China perkuat studi tentang Indonesia, Universitas Peking gelar forum internasional bahas masa transisi
Indonesia
•
16 Oct 2026

Bedah Buku - Kasdam III/Siliwangi ajak publik melek perang kognitif demi tangkal baya malinformasi dan ‘deepfake’
Indonesia
•
16 Oct 2026

Bantuan masjid dan musala 2026 dibuka, catat syarat dan jadwalnya
Indonesia
•
16 Oct 2026

ICGI 2026 UNAS: 300 peserta dari 7 negara bahas dunia yang dikepung ‘polycrisis’
Indonesia
•
15 Oct 2026
