
Kabut asap diprediksi bertahan hingga 2027, Malaysia siapkan bantuan untuk Indonesia

Menara Kembar Petronas diselimuti kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 10 September 2019. (Xinhua/Zhu Wei)
Kuala Lumpur, Malaysia (Xinhua/Indonesia Window) – Situasi kabut asap saat ini diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2027 akibat cuaca panas dan kering berkepanjangan yang merupakan dampak dari fenomena El Nino, ujar Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Hidup Malaysia Arthur Joseph Kurup pada Selasa (22/9).
El Nino diperkirakan akan menguat menjadi fase Super El Nino mulai Oktober 2026 hingga Januari 2027, dengan dampaknya terus berlanjut hingga Juni, sementara monsun barat daya yang terjadi bersamaan menyebabkan curah hujan yang lebih rendah serta kondisi yang lebih panas dan kering, papar Arthur kepada media setempat.
"Kondisi kering yang berkepanjangan tersebut akan meningkatkan risiko kebakaran terbuka, terutama di daerah-daerah rawan kebakaran," ujar sang menteri, sembari menambahkan bahwa kabut asap berkepanjangan kali ini melebihi kejadian-kejadian sebelumnya yang berlangsung selama satu hingga dua bulan.
Arthur juga menuturkan bahwa Malaysia akan membantu Indonesia dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, termasuk penyediaan kemampuan pemadaman dari udara, seraya menambahkan Malaysia telah menawarkan operasi pengeboman air menggunakan helikopter, dukungan pemadaman menggunakan pesawat amfibi, serta pelaksanaan operasi penyemaian awan.
"Bentuk dan ruang lingkup bantuan akan dirinci bersama dengan pemerintah Indonesia berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian situasi di lapangan, tergantung pada kesepakatan instansi kedua negara," ujarnya.
Sementara itu, beberapa area di Negara Bagian Sarawak, Malaysia, yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan atau Borneo, mencatat tingkat polusi yang tidak sehat pada Selasa, dengan Distrik Sibu mencatat Indeks Polutan Udara (Air Pollutant Index/API) di angka 175 pada pukul 15.00 waktu setempat. Area-area lainnya, termasuk Sri Aman dan Mukah, mencatat angka 172.
Menurut skala penilaian kualitas udara di negara tersebut, angka API antara nol hingga 50 dikategorikan sebagai ‘baik’, 51 hingga 100 sebagai ‘moderat’, 101 hingga 200 sebagai ‘tidak sehat’, 201 hingga 300 sebagai ‘sangat tidak sehat’, dan 301 ke atas sebagai ‘berbahaya’.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Vietnam dan Rusia sepakat perdalam hubungan bilateral
Indonesia
•
21 Jun 2024

Trump sebut akan buat kesepakatan untuk caplok Greenland dengan "cara mudah" atau "cara sulit"
Indonesia
•
11 Jan 2026

Pesawat militer yang bawa wapres Malawi dilaporkan hilang
Indonesia
•
11 Jun 2024

New York Times: Upaya AS bimbing Sudan capai demokrasi berujung perang
Indonesia
•
06 May 2023


Berita Terbaru

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026

Telaah – Xi ke Washington, Pertanyaan besarnya: Bisakah China-AS lolos dari ‘Thucydides Trap’? (Bagian 1 dari 2)
Indonesia
•
23 Sep 2026

Telaah – Xi ke Washington, Pertanyaan besarnya: Bisakah China-AS lolos dari ‘Thucydides Trap’? (Bagian 2 - selesai)
Indonesia
•
23 Sep 2026

Iran punya teknologi rudal jarak jauh, IRGC klaim uji coba hantam kapal induk AS sejauh 500 km
Indonesia
•
23 Sep 2026
