Jumlah orang di AS yang jalani perawatan kesehatan mental naik selama pandemik

Masalah kesehatan mental
Sejumlah orang menyeberangi jalan di dekat stasiun kereta di Kota San Mateo, California, Amerika Serikat, pada 18 April 2022. (Xinhua/Wu Xiaoling)
Advertiser Popin

Hampir 22 persen orang dewasa di AS menjalani perawatan kesehatan mental pada 2021, naik dari sekitar 19 persen pada 2019.

 

New York City, AS (Xinhua) – Persentase orang dewasa muda di Amerika Serikat (AS) yang menjalani perawatan karena masalah kesehatan mental meningkat selama pandemik COVID-19, menurut data yang dipublikasikan pada Rabu (7/9) oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS.

Hampir 22 persen orang dewasa menjalani perawatan kesehatan mental pada 2021, naik dari sekitar 19 persen pada 2019. Lonjakan ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi antara peningkatan kebutuhan dan akses yang lebih baik untuk mendapatkan perawatan, tutur Calliope Holingue, seorang epidemiolog kejiwaan.

“Pandemi memicu pembahasan penting tentang perlunya merawat diri sendiri. Di dalam populasi secara keseluruhan, kita melihat hal tersebut tercermin,” katanya.

Secara keseluruhan, laporan CDC menunjukkan bahwa kenaikan dalam hal perawatan kesehatan mental sebagian besar dipicu oleh orang dewasa yang berusia kurang dari 45 tahun, ungkap CNN dalam laporannya tentang data tersebut.

Orang dewasa berusia 18 hingga 44 tahun berpeluang paling rendah untuk menjalani perawatan kesehatan mental pada 2019. Namun, pada 2021, kelompok ini menjadi yang berpeluang paling tinggi, mencatat lonjakan sebesar hampir 5 poin persentase selama rentang waktu tersebut, imbuh laporan itu.

Anak-anak

Tak hanya menimpa kaum muda, pandemik COVID-19 dan isolasi yang harus dijalani oleh mereka yang terinfeksi virus corona telah berdampak besar juga pada kesehatan mental anak-anak. Hal ini meningkatkan permintaan akan layanan dalam sistem kesehatan AS yang sudah terbebani.

“Ini adalah masalah besar nasional,” kata Dr. Jennifer Havens, yang merupakan profesor dan ketua psikiatri anak dan remaja di NYU School of Medicine di New York City.

“Permintaan untuk layanan kesehatan mental telah meningkat secara dramatis karena COVID-19, dan kapasitas perawatan psikiatri rawat inap untuk anak-anak sangat kecil, jadi kami melihat backlog (tumpukan masalah yang tak selesai) untuk layanan kesehatan mental rawat inap dan rawat jalan,” kata Havens.

Dr. Patricia Ibeziako, kepala asosiasi layanan klinis di departemen psikiatri dan ilmu perilaku Rumah Sakit Anak Boston, dan rekan-rekannya membandingkan catatan rumah sakit dari tahun pertama pandemik (Maret 2020 hingga Februari 2021) dengan tahun sebelumnya.

Selama kurun waktu ini, hampir 3.800 anak berusia 4 hingga 18 tahun dirawat di unit gawat darurat atau rawat inap karena masalah kesehatan mental. Sekitar delapan dari 10 berusia 12 hingga 18 tahun.

Pada tahun sebelum pandemik, 50 persen anak-anak yang dirawat di rumah sakit memiliki pikiran bunuh diri atau melakukan upaya bunuh diri. Jumlah ini naik menjadi 60 persen selama tahun pertama pandemik, menurut studi.

Selain itu, ada peningkatan yang nyata dalam penerimaan kesehatan mental untuk depresi, kecemasan, gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan gangguan obsesif-kompulsif selama tahun pertama pandemik.

Pada tahun pertama pandemik, semakin banyak anak-anak yang memiliki masalah kesehatan mental terpaksa ditempatkan selama berhari-hari di unit gawat darurat karena fasilitas pelayanan yang penuh. Rata-rata waktu menunggu perawatan meningkat dari 2,1 hari sebelum pandemik menjadi 4,6 hari selama pandemik.

Laporan: Redaksi

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here