Jepang siap bentuk pasukan udara dan antariksa, kekhawatiran militerisasi ruang angkasa menguat

Orang-orang berjalan di jalanan di Tokyo, Jepang, pada 18 Mei 2026. (Xinhua/Jia Haocheng)

Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Pemerintah Jepang berencana mengganti nama Pasukan Bela Diri Udara (Air Self-Defense Force/ASDF) Jepang menjadi ‘Pasukan Bela Diri Udara dan Antariksa’ (Air and Space Self-Defense Force) dalam tahun fiskal 2026, semakin memperluas kerangka keamanan Jepang ke luar angkasa. Langkah tersebut memicu kekhawatiran di Jepang terkait ekspansi militer, menurut laporan Nikkei.

Laporan yang dipublikasikan pada Ahad (14/6) itu menyebutkan bahwa undang-undang terkait sedang dibahas di parlemen. Jika disahkan, langkah itu akan menandai perubahan nama pertama bagi Pasukan Bela Diri Jepang sejak pembentukan Pasukan Bela Diri Darat, Maritim, dan Udara pada 1954.

Langkah tersebut dimaksudkan untuk secara resmi menetapkan antariksa sebagai salah satu domain operasional Pasukan Bela Diri Jepang, menurut laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa perubahan nama itu "bukan sekadar pergantian nama, melainkan juga tonggak penting dalam perluasan konsep keamanan Jepang".

Jepang sudah membentuk dan terus memperluas unit-unit yang didedikasikan untuk operasi terkait antariksa. Pasukan antariksa negara itu bermula pada 2020 dengan peluncuran Skuadron Operasi Antariksa (Space Operations Squadron), yang awalnya beranggotakan sekitar 20 personel.

Unit tersebut dirombak menjadi Kelompok Operasi Antariksa (Space Operations Group) pada 2022 dan semakin diperluas menjadi Sayap Operasi Antariksa (Space Operations Wing) pada Maret 2026, menambah kekuatan personelnya menjadi 670. Pada tahun fiskal 2026, Jepang berencana untuk semakin memperluas sayap tersebut menjadi komando operasi antariksa, memperbesar kekuatan personelnya menjadi sekitar 880 orang.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Jepang mengenai agenda keamanan negara tersebut yang semakin meluas. Dalam komentar yang diunggah di situs berita tersebut, banyak warga Jepang mempertanyakan perluasan cakupan keamanan nasional yang terus dilakukan pemerintah dan peningkatan pengeluaran pertahanan. Mereka berargumen bahwa kebijakan itu dapat memberikan tekanan yang lebih besar terhadap keuangan publik dan mengurangi anggaran yang tersedia untuk kesejahteraan sosial.

Dalam sebuah debat parlemen baru-baru ini, Tomoko Tamura, ketua Partai Komunis Jepang, memperingatkan bahwa langkah pemerintah tersebut berarti bahwa Pasukan Bela Diri Jepang akan secara resmi melakukan misi tempur antariksa, yang membawa antariksa lebih jauh ke ranah persaingan militer dan berpotensi mengintensifkan perlombaan senjata antariksa. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait