
China capai terobosan baru dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya antariksa

Gambar tangkapan layar yang diabadikan di Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC) pada 16 April 2026 ini memperlihatkan astronaut Shenzhou-21 Wu Fei sedang melakukan aktivitas di luar wahana antariksa (extravehicular activity/EVA) atau 'spacewalk' di luar stasiun luar angkasa China yang mengorbit. (Xinhua/Zhang Fan)
Pembangkit listrik tenaga surya antariksa akan mengumpulkan sinar matahari di luar angkasa, di mana matahari selalu bersinar, dan kemudian mengubah energi tersebut menjadi gelombang mikro atau laser untuk dipancarkan kembali ke Bumi atau langsung ke satelit dan wahana antariksa.
Xi'an, China (Xinhua/Indonesia Window) – Ilmuwan China mengambil langkah besar menuju pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga surya antariksa, sebuah fasilitas pembangkit listrik raksasa di luar angkasa yang diharapkan dapat mengirim kembali energi ke Bumi atau ke wahana antariksa.
Sebuah tim peneliti dari Universitas Xidian di Provinsi Shaanxi, China barat laut, membuat kemajuan signifikan dalam proyek Sun Chasing (Mengejar Matahari), atau ‘Zhuri’ dalam Bahasa Mandarin. Tim tersebut mengembangkan sistem pengujian berbasis di Bumi untuk transmisi daya nirkabel yang dapat mengisi daya beberapa target bergerak secara bersamaan.
Dalam sejumlah pengujian terbaru, sistem tersebut mencapai efisiensi transmisi daya nirkabel sebesar 20,8 persen dari arus searah (direct current/DC) ke arus searah pada jarak 100 meter. Sistem ini mengirimkan daya sebesar 1.180 watt. Para peneliti juga telah membangun sistem pengisian daya nirkabel untuk drone. Pada sebuah pengujian, drone yang terbang dengan kecepatan 30 kilometer per jam mampu menerima daya stabil sebesar 143 watt dari jarak 30 meter.
Pembangkit listrik tenaga surya antariksa bekerja persis seperti namanya, yakni susunan panel surya raksasa yang ditempatkan di orbit luar angkasa. Pembangkit ini akan mengumpulkan sinar matahari di luar angkasa, di mana matahari selalu bersinar, dan kemudian mengubah energi tersebut menjadi gelombang mikro atau laser untuk dipancarkan kembali ke Bumi atau langsung ke satelit dan wahana antariksa. Metode ini dapat mengatasi dua tantangan penting, yakni memasok daya tanpa gangguan untuk misi luar angkasa dan mengatasi krisis energi di Bumi.
Pada 2018, tim peneliti meluncurkan fase pertama proyek Sun Chasing untuk membangun sistem pengujian di Bumi. Pada Juni 2022, mereka menyelesaikan sistem validasi di Bumi dengan tautan lengkap dan sistem menyeluruh pertama di dunia untuk pembangkit listrik tenaga surya antariksa. Kini, tim telah beralih ke fase kedua. Tujuannya saat ini adalah mengatasi tantangan dalam menghasilkan daya tinggi di luar angkasa dan mentransmisikannya secara efisien dari jarak jauh.
Menurut Duan Baoyan, seorang pakar di Universitas Xidian dan akademisi dari Akademi Teknik China, terobosan terbaru ini meliputi peningkatan efisiensi pengumpulan dan konversi energi surya, peningkatan presisi kontrol sinar gelombang mikro untuk mengurangi tingkat kehilangan energi, serta pembuatan antena pemancar dan penerima yang lebih kecil dan ringan, yang sangat penting untuk penerapan di luar angkasa.
Tim tersebut juga telah memecahkan masalah memasok daya pada beberapa target bergerak sekaligus menggunakan satu pemancar. Ini berarti di masa depan, satu pembangkit listrik antariksa berpotensi memasok listrik ke beberapa satelit atau kendaraan di Bumi secara bersamaan, tambah Duan.
Duan mengungkapkan masih panjang jalan yang harus ditempuh sebelum pembangkit listrik tenaga surya antariksa ini dapat menjadi kenyataan yang layak secara komersial. Langkah selanjutnya, ungkap Duan, adalah melakukan pengujian di orbit. Dia berharap dapat memberikan kearifan dan solusi China untuk mendukung transisi energi global dan pembangunan berkelanjutan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pesawat listrik terbang perdana di dekat Tembok Besar Beijing
Indonesia
•
26 Sep 2024

Beijing fokus jadi pusat inovasi iptek internasional di tengah pembangunan berkualitas tinggi
Indonesia
•
21 Mar 2024

Arkeolog China temukan reruntuhan bangunan besar di kota kekaisaran kuno
Indonesia
•
23 Feb 2023

Laporan sebut teknologi AI berdayakan pengembangan media
Indonesia
•
15 Oct 2024


Berita Terbaru

Dari robot humanoid hingga eVTOL, jurnalis dunia saksikan wajah kota masa depan di Shenzhen
Indonesia
•
27 Jul 2026

Feature – Mengapa Indonesia tak pernah menemukan dinosaurus? Pameran ini ungkap alasannya
Indonesia
•
26 Jul 2026

Ilmuwan China berhasil kloning padi hibrida, tak perlu benih baru setiap tahun
Indonesia
•
26 Jul 2026

Teknologi satelit China melesat, citra Bumi kini bisa dikirim hanya dalam waktu 1,5 jam
Indonesia
•
24 Jul 2026
