
Senator Filipina desak Jepang beri kompensasi kepada para "wanita penghibur" era perang

Foto yang diabadikan pada 24 September 2022 ini menunjukkan acara peringatan lima tahun pendirian patung "wanita penghibur" di St Mary's Square di San Francisco, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Yilin)
Jepang memprotes pemasangan patung ‘wanita penghibur’ di jalan di depan Teluk Manila pada Desember 2017 dan menuntut agar patung itu diturunkan.
Manila, Filipina (Xinhua) – Seorang senator Filipina pada Rabu (3/7) mendesak pemerintah Filipina agar memenuhi janjinya untuk memberikan "kompensasi yang adil dan bermakna" bagi para wanita Filipina yang dipaksa bekerja di rumah-rumah bordil pada masa perang Jepang.Senator Risa Hontiveros mengatakan saat ini hanya ada 18 mantan "wanita penghibur" Filipina yang masih hidup di negara itu, dan sudah waktunya untuk memberikan kompensasi kepada mereka dan keluarga mereka."Waktunya sudah hampir habis bagi pemerintah Filipina untuk berusaha memberikan ganti rugi dan pengakuan kepada para perempuan ini," katanya.Hontiveros menegaskan kembali seruannya usai mengadakan pertemuan dengan organisasi nirlaba Malaya Lolas (Free Grandmothers), yang terdiri dari para penyintas perbudakan seks asal Filipina."Para Lolas (nenek) ini tidak dapat menunggu lebih lama lagi," kata Hontiveros, seraya menambahkan bahwa pemerintahan Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos "harus menepati janjinya untuk memberikan bantuan dan pertolongan" kepada para korban.Hontiveros juga mengunjungi Bahay na Pula, tempat yang digunakan oleh tentara Jepang untuk melakukan kekerasan seksual. Dia menyatakan harapannya bahwa pemerintah akan memugar rumah tersebut dan menjadikannya sebagai monumen peringatan bagi para korban dan penyintas kekerasan seksual pada masa perang.Hontiveros juga mendesak pemerintah Filipina untuk mencari patung "wanita penghibur" yang hilang pada 2019. Jepang memprotes pemasangan patung tersebut di jalan di depan Teluk Manila pada Desember 2017 dan menuntut agar patung itu diturunkan. Patung perunggu setinggi 2,1 meter itu, yang menggambarkan seorang wanita berbusana tradisional Filipina yang sedang berduka dengan mata tertutup kain, kemudian diturunkan pada April 2018.Hontiveros, yang menyusun undang-undang yang menentang kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi seksual, telah mengajukan resolusi yang mendesak pemerintah untuk memastikan kompensasi yang adil dan bermakna diberikan kepada para "wanita penghibur" Filipina dan keluarga mereka setelah komite Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkritik Filipina terkait penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.Panel PBB mengatakan bahwa Filipina gagal memenuhi kewajiban perjanjiannya di bawah Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dengan tidak mengupayakan ganti rugi bagi para "wanita penghibur".Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kasus flu capai rekor tertinggi, rumah sakit di Inggris ‘siaga tinggi’
Indonesia
•
19 Dec 2025

Kisah – Kehidupan pembuat teh melati yang harum di Fuzhou, China
Indonesia
•
12 Dec 2022

Perpustakaan digital di China terangi dunia para penyandang tunanetra
Indonesia
•
24 Nov 2022

Gedung Putih luncurkan akun TikTok resmi
Indonesia
•
22 Aug 2025


Berita Terbaru

Surat dari Timur Tengah: Tanah Air dirampas, Tatreez menjaga ingatan Palestina tetap hidup
Indonesia
•
08 Sep 2026

2.500 lebih personel penyelamat dikerahkan ke pelabuhan Gyirong yang dilanda tanah longsor di Xizang China
Indonesia
•
07 Sep 2026

China perkuat respons bencana Nepal dengan data satelit dan bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
06 Sep 2026

Dari pertukaran berita hingga jurnalis, Forum Shenzhen dorong kolaborasi media
Indonesia
•
06 Sep 2026
