Jepang dan AS kompak intervensi yen untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, ada apa?

Foto berikut ini memperlihatkan pemandangan kota di Tokyo, Jepang, pada 17 November 2025. (Xinhua/Jia Haocheng)

Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Jepang dan Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi di pasar valuta asing, yang merupakan langkah serupa pertama dalam kurun 15 tahun, ungkap Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama pada Senin (3/8).

Langkah gabungan yang dilakukan pada Jumat (31/7) dalam sesi perdagangan New York tersebut diambil setelah nilai tukar yen menyentuh angka 163,99 per dolar AS pada 23 Juli, level terlemahnya dalam sekitar 40 tahun.

Intervensi tersebut dilakukan berdasarkan Pernyataan Bersama Menteri Keuangan AS-Jepang yang dirilis pada September 2025, dan ditujukan untuk meredam volatilitas yang berlebihan serta pergerakan yen Jepang yang tidak terkendali dalam beberapa bulan terakhir, tutur Katayama dalam sebuah pernyataan pada Senin.

"Kementerian Keuangan Jepang terus memantau situasi secara saksama dan menjalin komunikasi intensif dengan pihak Departemen Keuangan AS. Kami tidak akan ragu untuk melakukan intervensi gabungan lebih lanjut," imbuhnya.

Di New York pada Jumat, nilai tukar yen menguat tajam hingga kisaran bawah level 157 terhadap dolar AS, dengan sejumlah sumber pemerintah Jepang mengonfirmasi adanya intervensi pasar valuta asing oleh otoritas mata uang, lapor Kyodo News.

Aksi beli yen meningkat dalam semalam selama sesi perdagangan New York pada Kamis (30/7), dengan mata uang tersebut sempat melonjak tajam ke kisaran atas level 157 terhadap dolar AS, menyentuh level terkuatnya sejak pertengahan Mei, dan menguat hampir 5 yen dalam kurun sekitar 50 menit sebelum akhirnya kembali melemah ke level 160. 

Operasi pembelian yen yang berlangsung sejak Kamis (30/7) malam hingga Sabtu (1/8) pagi waktu Jepang menandai intervensi pasar terkoordinasi pertama yang dilakukan oleh Tokyo dan Washington sejak 2011, ketika nilai yen melonjak setelah terjadinya Gempa Bumi Besar Jepang Timur (Great East Japan Earthquake).

Katayama menyebutkan bahwa kedua negara "tidak akan ragu untuk melakukan intervensi gabungan lebih lanjut".

Saham-saham di bursa Tokyo anjlok tajam pada Senin pagi, dengan indeks Nikkei sempat merosot lebih dari 2 persen, di tengah kekhawatiran bahwa lonjakan nilai yen dapat mengganggu prospek bisnis perusahaan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait