
Iran tegaskan kembali "garis merah" rudal saat kapal induk AS menuju Timur Tengah

Warga berduka saat upacara pemakaman korban serangan teroris di Teheran, Iran, pada 9 Juni 2017. (Xinhua/Ahmad Halabisaz)
Program rudal Teheran tetap tidak dapat dinegosiasikan, seiring langkah Amerika Serikat memerintahkan pengerahan kapal induk kedua ke Timur Tengah di tengah buntunya upaya diplomasi.
Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang pejabat senior Iran pada Jumat (13/2) kembali menegaskan bahwa program rudal Teheran tetap menjadi "garis merah" yang tidak dapat dinegosiasikan, seiring langkah Amerika Serikat (AS) memerintahkan pengerahan kapal induk kedua ke Timur Tengah di tengah buntunya upaya diplomasi.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Ali Shamkhani, penasihat politik senior bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, mengatakan bahwa Iran akan merespons "secara tegas dan tepat" terhadap setiap tindakan militer.
"Kekuatan rudal Iran termasuk dalam garis merah dan tidak dapat dinegosiasikan," ujar Shamkhani, seraya menambahkan bahwa militer tetap dalam keadaan siaga tinggi. Dia juga memperingatkan bahwa harga yang harus dibayar dari setiap "miskalkulasi" oleh kekuatan luar akan sangat mahal.
Namun, Shamkhani mengatakan perundingan antara Teheran dan Washington dapat mengalami kemajuan dan melindungi kepentingan bersama jika perundingan tersebut didasarkan pada realisme dan menghindari tuntutan yang berlebihan.
Selanjutnya pada Jumat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, telah diperintahkan untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak berpeluru kendali yang lebih dulu dikerahkan ke Timur Tengah.
Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan opsi-opsi militer jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan nuklir baru.
"Saya akan berbicara dengan mereka selama yang saya inginkan, dan kita akan lihat apakah kami bisa mencapai kesepakatan," ujarnya kepada para wartawan pada Kamis (12/2). "Dan jika tidak bisa (mencapai kesepakatan), kita harus melanjutkan ke tahap kedua. Tahap kedua akan sangat sulit bagi mereka."
AS dan Iran telah mengadakan pembicaraan tak langsung di Muscat, Oman, pada 6 Februari, tetapi ketegangan tetap tinggi di tengah pengerahan militer AS di dekat perairan Iran. Saat berbicara pada Rabu (11/2) dalam acara peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran 1979, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan "tembok kesangsian" yang diciptakan Barat menjadi penyebab lambatnya kemajuan perundingan.
Washington mengatakan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup larangan pengayaan uranium, penyingkiran material yang sudah diperkaya, pembatasan rudal jarak jauh, dan penarikan dukungan untuk proksi-proksi regional. Kalangan analis mengatakan bahwa persyaratan-persyaratan tersebut akan "sangat sulit" diterima oleh Iran.
Terlepas dari berbagai friksi yang terjadi, Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) telah melanjutkan dialog dengan Teheran usai serangan-serangan terbaru terhadap sejumlah target di Iran.
Dalam Konferensi Keamanan Munich, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyebut situasi tersebut "kompleks dan sangat sulit", tetapi mengatakan bahwa para inspektur telah kembali dikerahkan ke sebagian besar lokasi, kecuali yang baru-baru ini diserang.
"Kita berada di momen yang sangat, sangat krusial," ujarnya. "Kita mungkin akan melihat cahaya di ujung terowongan, dalam mencapai sesuatu, beberapa hari ke depan."
Teheran belum memberikan komentar terkait pernyataan Grossi tersebut. Sebelumnya, Iran menangguhkan kerja sama dengan IAEA usai sejumlah serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklirnya yang menurutnya dilakukan oleh Israel dan AS.
Di bawah perjanjian nuklir 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA), Iran setuju membatasi pengayaan uranium sebesar 3,67 persen. Sejak AS menarik diri dari perjanjian itu pada 2018, Teheran telah melampaui batas itu. Para pejabat Barat mengatakan bahwa Iran kini memiliki uranium yang diperkaya hingga 60 persen, tingkat yang dapat dimurnikan lebih lanjut menjadi material untuk senjata.
Iran membantah memiliki senjata nuklir dan mengatakan bahwa programnya dimaksudkan untuk tujuan energi yang damai.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

UEA terapkan tanggap darurat hadapi Topan Shaheen
Indonesia
•
04 Oct 2021

China berharap KTT Perdamaian di Ukraina tak jadi ajang konfrontasi blok
Indonesia
•
05 Jun 2024

Kasus COVID-19 Saudi dapat capai 200.000 dalam beberapa pekan
Indonesia
•
08 Apr 2020

Arab Saudi pulihkan hubungan diplomatik penuh dengan Qatar
Indonesia
•
06 Jan 2021


Berita Terbaru

Jajak pendapat ungkap konflik Iran tidak populer di kalangan mayoritas warga AS
Indonesia
•
22 May 2026

Dubes AS sebut Trump kesampingkan penggunaan kekuatan untuk kuasai Greenland
Indonesia
•
22 May 2026

Serangan Israel tewaskan 29 orang di Lebanon selatan saat bentrokan terus berlanjut meski gencatan senjata
Indonesia
•
21 May 2026

WHO sebut wabah Ebola bukan "darurat pandemi"
Indonesia
•
21 May 2026
