
Iran paksa pasukan AS mundur dari Selat Hormuz, buka jalur pelayaran baru

Foto yang diabadikan pada 11 April 2026 ini menunjukkan papan reklame untuk pembicaraan Amerika Serikat-Iran di Islamabad, Pakistan. (Xinhua/Ahmad Kamal)
Angkatan Laut Iran telah membuka jalur transit kapal baru melalui Selat Hormuz, yang diberi nama ‘Koridor Larak’ (Larak Corridor).
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran dilaporkan memaksa pasukan Amerika Serikat (AS) untuk mundur pada Ahad (19/4) setelah mereka melepaskan tembakan ke arah sebuah kapal dagang Iran di dekat Teluk Oman, demikian dilansir kantor berita semiresmi Iran, Mehr.
IRGC juga mengumumkan pembukaan rute baru untuk kapal yang melalui Selat Hormuz.
Mengutip sumber-sumber eksklusif, laporan itu menyebutkan bahwa pasukan "teroris" AS yang dikerahkan ke perairan dekat Teluk Oman menembaki sebuah kapal dagang Iran untuk memaksanya berlayar kembali ke perairan teritorial Iran sebagai respons atas penutupan dan tindakan IRGC untuk mengendalikan Selat Hormuz dan membuat kapal-kapal dagang India dan Inggris meninggalkan jalur air tersebut.
"Dengan kehadiran tepat waktu dan reaksi cepat dari unit-unit Angkatan Laut IRGC dalam mendukung kapal Iran, pasukan AS terpaksa mundur dan meninggalkan area tersebut," menurut pernyataan itu.
Pada Ahad, stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB TV, melaporkan bahwa Angkatan Laut IRGC telah membuka jalur transit kapal baru melalui Selat Hormuz, yang diberi nama "Koridor Larak" (Larak Corridor).
Laporan itu menyebutkan bahwa rute tersebut membentang dari bagian selatan Pulau Hormuz hingga bagian selatan Pulau Larak, seraya menambahkan bahwa rute itu hanya dapat digunakan oleh kapal-kapal setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan dengan izin dari Angkatan Laut IRGC.
Menurut laporan tersebut, rute itu sepenuhnya berada di dalam perairan teritorial Iran, dan transit tanpa izin tidak mungkin dilakukan mengingat Angkatan Laut IRGC memberlakukan kontrol ketat atas jalur perairan tersebut.
Iran memperketat kendalinya atas selat tersebut sejak 28 Februari, ketika Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran. AS baru-baru ini memberlakukan blokade yang menyasar kapal-kapal yang menuju dan meninggalkan Iran, setelah negosiasi perdamaian di Islamabad gagal.
Pada Jumat (17/4), Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan bahwa Selat Hormuz akan "sepenuhnya dibuka" bagi pelayaran komersial pada periode gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS yang mulai berlaku pada 8 April, sejalan dengan pengumuman gencatan senjata di Lebanon.
Namun, komando militer utama Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, pada Sabtu (18/4) mengumumkan dimulainya kembali kontrol ketat atas Selat Hormuz karena blokade Angkatan Laut AS yang terus berlanjut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

136 kapal komersial diserang di Laut Hitam, ancaman terhadap perdagangan global kian meningkat
Indonesia
•
28 Jul 2026

Lebih dari 100 eks pejabat dan anggota parlemen dari Partai Republik dukung Kamala Harris jadi presiden AS
Indonesia
•
20 Sep 2024

Di tengah kritik, Filipina dan AS mulai latihan militer gabungan terbesar
Indonesia
•
23 Apr 2024

Menteri Vietnam: RCEP tawarkan model ekonomi yang ideal
Indonesia
•
19 Nov 2020


Berita Terbaru

Perang AS-Iran masuk bulan keenam, ekonomi global masih bertahan? Ini jawaban IMF
Indonesia
•
12 Sep 2026

PBB: 1.500 warga Palestina terusir akibat pembongkaran Israel di Tepi Barat
Indonesia
•
12 Sep 2026

Aljazair putus hubungan diplomatik dengan UEA, duta besar diberi waktu 48 jam
Indonesia
•
12 Sep 2026

Houthi rebut kawasan Selat Bab al-Mandab, kuasai seluruh pesisir barat Yaman
Indonesia
•
12 Sep 2026
