Intelijen AS sebut Iran masih pertahankan kapasitas serangan signifikan

Seorang pria berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa menentang serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran di pusat kota London, Inggris, pada 21 Maret 2026. (Xinhua/Li Ying)

Iran masih menyimpan banyak rudal serta rudal jelajah pertahanan pesisir dalam jumlah yang signifikan, yang menjadi kemampuan kunci untuk mengendalikan Selat Hormuz.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Penilaian intelijen terbaru dari Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa sekitar setengah jumlah peluncur rudal Iran masih utuh dan ribuan drone serang satu-arah masih berada di gudang senjata Iran lebih dari sebulan setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, lapor CNN pada Kamis (2/4).

"Mereka masih sangat siap untuk menimbulkan kehancuran besar di seluruh kawasan," ujar seorang sumber, yang mengetahui informasi intelijen tersebut, kepada media AS.

Penilaian itu juga menunjukkan bahwa Iran masih menyimpan banyak rudal serta rudal jelajah pertahanan pesisir dalam jumlah yang signifikan, yang menjadi kemampuan kunci untuk mengendalikan Selat Hormuz, ungkap laporan tersebut.

Meskipun kapal-kapal Angkatan Laut Iran sebagian besar telah dihancurkan, armada angkatan laut terpisah di bawah Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran masih mempertahankan sekitar setengah dari kemampuannya, dengan "ratusan, atau bahkan ribuan, kapal kecil dan kapal permukaan nirawak yang masih tersisa," sebut sumber yang dikutip CNN.

Informasi intelijen tersebut menunjukkan bahwa penggunaan fasilitas bawah tanah oleh Iran telah membantu mempertahankan peluncur rudalnya. Negara itu sejak lama menyembunyikan peluncurnya dalam jaringan terowongan dan gua yang luas, sehingga membuatnya sangat sulit untuk dijadikan sasaran.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (1/4) menyebut jangka waktu penyelesaian operasi militer AS berkisar dua hingga tiga pekan. Namun, seorang sumber yang telah meninjau penilaian intelijen tersebut mengatakan bahwa jangka waktu itu tidak realistis.

Israel, sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, serta pasukan AS terus menghadapi serangan rudal dan drone secara berkala dari Iran. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait