
China jajaki penerapan energi nuklir untuk kurangi emisi karbon dalam industri petrokimia

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada Juni 2024 ini menunjukkan pemandangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Tianwan di Kota Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/China National Nuclear Corporation)
Industri petrokimia, yang menghadapi tantangan transformasi bersih dan rendah karbon, lebih memilih mengganti konsumsi batu bara dengan energi nuklir untuk menyediakan panas, uap, dan daya.
Nanjing, China (Xinhua) – China berhasil merampungkan proyek yang bertujuan mengangkut uap yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ke sebuah basis petrokimia. Proyek ini dirancang untuk membantu mengurangi emisi karbon dan mengeksplorasi pemanfaatan energi kolaboratif dalam industri nuklir dan tradisional.Proyek tersebut, yang diberi nama Heqi No. 1 dan dibangun oleh China National Nuclear Corporation (CNNC), mulai beroperasi pada Rabu (19/6). Proyek itu akan mengirimkan 4,8 juta ton uap setiap tahunnya dari PLTN Tianwan ke sebuah basis petrokimia di Kota Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China timur.Pembangkit-pembangkit listrik tenaga nuklir secara khusus mengandalkan fisi nuklir untuk melepaskan energi, memanaskan air menjadi uap, dan menggerakkan turbin uap untuk menghasilkan listrik. Selain itu, uap tidak hanya dapat digunakan untuk pembangkit listrik, tetapi juga dapat digunakan dalam produksi industri, kata Liu Yongsheng, manajer umum pemeliharaan Jiangsu Nuclear Power Corporation yang berada di bawah naungan CNNC.Bagi perusahaan-perusahaan petrokimia, uap merupakan sumber panas dan sumber tenaga yang sangat diperlukan dalam proses produksi. Industri petrokimia, yang menghadapi tantangan transformasi bersih dan rendah karbon, lebih memilih mengganti konsumsi batu bara dengan energi nuklir untuk menyediakan panas, uap, dan daya, papar Liu.Proyek ini menggunakan uap yang dihasilkan dari sistem turbin PLTN Tianwan Unit 3 dan Unit 4 sebagai sumber panas. Proyek tersebut mengangkut uap melalui pipa gas industri ke basis industri petrokimia melalui pertukaran panas multitahap, menggantikan konsumsi batu bara tradisional serta memenuhi kebutuhan panas dan daya perusahaan-perusahaan petrokimia.Proyek ini diperkirakan akan mengurangi konsumsi batu bara standar sebesar 400.000 ton per tahun, setara dengan memangkas emisi 1,07 juta ton karbon dioksida, 184 ton sulfur dioksida, dan 263 ton nitrogen oksida. Pemangkasan emisi ini juga sebanding dengan penanaman 2.900 hektare pohon baru setiap tahunnya, dan menghemat lebih dari 700.000 ton tunjangan emisi karbon (carbon emission allowances) untuk basis petrokimia setiap tahunnya, papar CNNC.PLTN Tianwan Unit 3 dan Unit 4 memiliki empat lapis pembatas keamanan. Langkah-langkah isolasi multilapis serta instrumen pemantauan radiasi juga diterapkan untuk memastikan keamanan produksi dan transmisi uap, urai perusahaan tersebut.
Foto yang diabadikan pada Juni 2024 ini menunjukkan fasilitas Heqi No. 1 di Kota Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/China National Nuclear Corporation)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presipitasi emas yang dipicu pirit tentukan pembentukan endapan emas berkualitas tinggi
Indonesia
•
24 Jan 2026

Lahan basah Heihe di China barat laut jadi surga burung migran
Indonesia
•
24 Jul 2024

Studi ungkap potensi polutan udara yang ada di pusat kebugaran
Indonesia
•
23 May 2024

Peneliti China kembangkan teknik baru untuk pengobatan keropos tulang
Indonesia
•
26 Aug 2022


Berita Terbaru

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026

Rusia targetkan pembangunan PLTN di Bulan dalam 5-7 tahun
Indonesia
•
20 Mar 2026

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026
