
Washington Post: Sistem sekolah berasrama suku Indian yang dioperasikan AS hancurkan keluarga dan suku-suku

Anggota dari 23 penduduk asli Pueblo di Negara Bagian New Mexico, Amerika Serikat (AS), serta beberapa suku dari Negara Bagian Arizona, merayakan Hari Pengukuhan Penduduk Asli di Pusat Kebudayaan Pueblo Indian di Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat, pada 14 Oktober 2019. (Xinhua/Richard Lakin)
Sekolah berasrama untuk suku Indian di 37 negara bagian Amerika Serikat, yang dibangun mulai dari akhir tahun 1870-an hingga 1969, pada akhirnya mengakibatkan warisan kehancuran bagi keluarga dan suku-suku.
New York City, AS (Xinhua) – Selama hampir 100 tahun, mulai dari akhir tahun 1870-an hingga 1969, pemerintah Amerika Serikat (AS), umumnya melalui kerja sama dengan gereja, otoritas keagamaan, dan kelompok misionaris, mengoperasikan dan menyokong lebih dari 400 sekolah berasrama untuk suku Indian di 37 negara bagian AS, yang pada akhirnya mengakibatkan warisan kehancuran bagi keluarga dan suku-suku, demikian dilansir Washington Post pada Senin (6/8)."Diambil dari rumah mereka yang berada di area-area yang dihuni warga Indian, anak-anak Amerika asli ini, beberapa di antaranya masih berusia 5 tahun, dipaksa mengikuti sekolah berasrama Indian sebagai bagian dari upaya pemerintah federal untuk menghapus bahasa dan budaya mereka serta mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat kulit putih," catat laporan itu, mengutip penyelidikan pertama terhadap sekolah-sekolah oleh Departemen Dalam Negeri AS.Sejumlah pakar dan pejabat pemerintah memperkirakan bahwa puluhan ribu anak-anak suku Indian mengikuti sekolah tersebut selama beberapa generasi, meskipun tidak ada yang mengetahui angka tepatnya. Ribuan anak diyakini meninggal di sekolah tersebut. Banyak di antara mereka mengalami pelecehan seksual, penganiayaan fisik, dan trauma emosional, lanjut laporan itu.Beberapa penyintas tidak pernah menceritakan pengalaman mereka secara terbuka, yang membuat mereka menderita trauma mendalam, dan keseluruhan proses tersebut digambarkan sebagai "holocaust suku Indian," tambah laporan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pekerja Singapura pengguna AI paling aktif dan bertanggung jawab di dunia
Indonesia
•
17 Jun 2026

Kekuatan perempuan Taiwan menanjak di kancah internasional
Indonesia
•
10 Mar 2025

Studi ungkap penggunaan media sosial dapat bantu cegah depresi
Indonesia
•
15 Nov 2024

Australia akan masukkan YouTube ke dalam larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun
Indonesia
•
31 Jul 2025


Berita Terbaru

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026

Stok darah O di AS tinggal kurang dari sehari, Palang Merah umumkan krisis nasional
Indonesia
•
29 Jul 2026

Kali pertama dalam 42 tahun, populasi warga negara Jepang turun di bawah 120 juta
Indonesia
•
29 Jul 2026

Feature – Dari Sungai Cisadane, tradisi perahu naga terus mengayuh lintas generasi
Indonesia
•
27 Jul 2026
