
Indonesia sukses inisiasi resolusi ekonomi kreatif di PBB

Indonesia berhasil menginisiasi diadopsinya Resolusi berjudul “Promoting Creative Economy for Sustainable Development” secara konsensus pada Sidang Majelis Umum (SMU) ke-78 PBB di New York (19/12).
Resolusi usulan Indonesia tersebut didukung oleh 59 negara lainnya sebagai co-sponsors, yang berasal dari berbagai kawasan dan tingkat pembangunan berbeda-beda.
Jakarta (Indonesia Window) – Indonesia berhasil menginisiasi diadopsinya resolusi berjudul ‘Promoting Creative Economy for Sustainable Development’ secara konsensus pada Sidang Majelis Umum (SMU) ke-78 PBB di New York (19/12).Hal tersebut merupakan resolusi substansi PBB pertama yang secara khusus membahas ekonomi kreatif (Ekraf), ungkap Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan terulisnya yang dikutip Indonesia Window pada Kamis.Resolusi usulan Indonesia tersebut didukung oleh 59 negara lainnya sebagai co-sponsors, yang berasal dari berbagai kawasan dan tingkat pembangunan berbeda-beda.Komposisi co-sponsors tersebut diapresiasi banyak pihak, karena merefleksikan keterwakilan yang beragam di tengah eskalasi politik global yang tidak menentu.Upaya penggalangan dukungan resolusi tersebut telah dilakukan secara intensif sejak awal tahun 2023, melalui kerja sama erat antara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.Pada Juli 2023, Kemlu dan Kemenparekraf menyelenggarakan briefing (penjelasan) tentang pentingnya sektor ekonomi kreatif kepada para duta besar negara-negara sahabat di Jakarta.Kemudian, Wakil Menteri Parekraf memberikan briefing kepada para diplomat berbagai negara di New York pada 6 September 2023.Proses perundingan teks resolusi sendiri dipimpin oleh Indonesia selama enam minggu pada bulan Oktober dan November 2023 di Markas Besar PBB di New York. Setelah melalui negosiasi intensif, perundingan menyepakati teks final yang terdiri atas 38 paragraf.Resolusi tersebut mendorong negara-negara anggota PBB dan berbagai pihak terkait untuk memberikan dukungan lebih besar pada pengembangan sektor Ekraf, di antaranya melalui (i) penguatan data, (ii) peningkatan riset, pengembangan talenta, pendidikan dan pelatihan, (iii) peningkatan akses pada pembiayaan, kesehatan dan perlindungan sosial, (iv) pemanfaatan kekayaan intelektual, dan (v) pemanfaatan teknologi digital, termasuk artificial intelligence (AI), secara bertanggung jawab.Selain itu, resolusi tersebut memandatkan PBB untuk secara rutin membahas isu Ekraf, meningkatkan dukungan peningkatan kapasitas, memfasilitasi diskusi, melakukan riset, menyusun panduan dan publikasi secara berkala.Bagi Indonesia, resolusi tersebut melanjutkan peran kepemimpinan Indonesia dalam pengarusutamaan kerja sama internasional Ekraf, yang di antaranya diwujudkan melalui inisiatif World Conference on Creative Economy (WCCE) sejak 2018.Lebih dari itu, resolusi juga akan digunakan oleh Indonesia untuk mewujudkan lebih banyak kerja sama peningkatan kapasitas yang bermanfaat nyata bagi pelaku Ekraf dan berbagai pemangku kepentingan nasional.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti: Waspadai 22 gunungapi aktif
Indonesia
•
04 Oct 2019

Korban erupsi Semeru bertambah jadi 34 orang, 17 hilang
Indonesia
•
07 Dec 2021

Presiden Prabowo dorong investasi perusahaan AS di Washington
Indonesia
•
12 Nov 2024

AS tawarkan Indonesia pesawat tempur generasi ke-4 dan 4,5 sebelum F-35
Indonesia
•
03 Nov 2020


Berita Terbaru

‘Sharp Knife 2026’ libatkan sistem nirawak dalam latihan militer gabungan kontraterorisme China–Indonesia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kemnaker ajak serikat pekerja kawal implementasi UU Pelindungan Ketenagakerjaan
Indonesia
•
26 Oct 2026

Menaker paparkan penguatan regulasi pelindungan pekerja di Forum Asia Pasifik
Indonesia
•
26 Oct 2026

Kemnaker buka pelatihan vokasi bagi 50 ribu pekerja terdampak PHK
Indonesia
•
22 Oct 2026
