Indonesia punya 12.000 jenis ngengat, jaga kesehatan vegetasi hutan

Indonesia punya 12.000 jenis ngengat, jaga kesehatan vegetasi hutan
Ilustrasi. Indonesia memiliki setidaknya 12.000 spesies ngengat, atau lima persen dari total jenis Lepidoptera di dunia yang berjumlah 160.000 jenis. (Ian Lindsay from Pixabay)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Indonesia memiliki setidaknya 12.000 spesies ngengat, atau lima persen dari total jenis Lepidoptera di dunia yang berjumlah 160.000 jenis.

Ngengat dikenal sebagai hama, namun tidak seluruh kelompok hewan ini merugikan manusia, menurut pernyataan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesian (LIPI) dalam situs jejaring yang dikutip di Bogor, Rabu.

Beberapa kelompok ngengat Larvae geometridae yang dikenal sebagai perampas daun atau defoliator tumbuhan hutan tidak dikategorikan sebagai hama.

Bahkan kelompok tersebut mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan vegetasi hutan.

Selain itu, ngengat juga berperan dalam penyerbukan tanaman, penghasil benang sutra, indikator alami perubahan lingkungan dan sumber protein.

Data

Keanekaragaman ngegat yang tinggi di Indonesia sejauh ini belum diimbangi dengan ketersediaan data dan informasi yang lengkap.

“Data dan informasi biologi ngengat masih sangat sedikit. Informasi yang relatif lengkap hanya mengenai jenis-jenis ngegat hama pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Informasi biologi hanya dapat diungkap dengan penguasaan pengetahuan sistematika,” jelas Hari Sutrisno dalam orasi berjudul Peran Sistematika Ngengat Untuk Mendukung Keefektifannya Dalam Pengendalian Hama yang disampaikan pada Selasa (6/10).

Peneliti bidang zoologi LIPI itu menjelaskan bahwa pengetahuan sistematika yang kuat mampu mengungkap keanekaragaman dan komposisi jenis ngengat dalam ekosistem tertentu, bahkan dapat menilai ekosistem yang mengalami gangguan akibat kegiatan manusia.

“Berdasarkan data, kita dapat memprediksi kemungkinan terjadinya ledakan populasi hama jenis tertentu di suatu kawasan dan mengungkap jenis hama ngengat baru dan catatan hama baru,” terang Hari yang merupakan Profesor Riset LIPI yang ke-147 itu.

Seluruh informasi sistematika tersebut, menurut dia, akan meningkatkan keefektifan pengendalian hama terpadu.

Kajian sistematika ngengat telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda hingga saat ini.

Prioritas pengembangan penelitian ngengat di masa yang akan datang lebih diarahkan untuk mengungkapkan jenis-jenis ngengat di kawasan bagian timur Indonesia.

Selain pengembangan database genomik, integrasi sistem digital, sistem kendali dan sistem informasi memiliki peran penting untuk memecahkan persoalan ngengat di masa depan.

“Penerapan artificial intelligence (kecerdasan buatan) atau barcoder dan biosensor mulai banyak diaplikasikan untuk mengungkapkan identitas jenis hama dan melakukan monitoring keberadaannya. Perlu sinergi antara ahli biosistematika, bioinformatika, dan ahli sistem kendali untuk menghasilkan alat ini,” ujar Hari.

Dia melanjutkan, sebagai bioindikator lingkungan ngengat menjadi bagian dari early warning system (sistem peringatan dini) yang dapat mencegah kerusakan ekosistem dan ledakan hama di sebuah daerah.

Informasi sistematika ngengat juga sangat diperlukan untuk melakukan negosiasi perdagangan produk segar hasil pertanian.

“Sebagai negara pengekspor pertanian, kita harus mampu menyusun daftar jenis hama yang berpotensi terbawa oleh produk ekspor. Selain itu, kita harus mampu menyediakan informasi tentang strategi pengelolaan hama secara lengkap dengan bukti-bukti ilmiah,” kata Hari.

“Saya yakin melalui penguasaan sistematika ngengat yang kuat, produksi pertanian dan volume ekspor produk ini bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here