
Indonesia perdalam kerja sama dengan China untuk perluas akses vaksin HPV

Seorang gadis menerima vaksin 'human papillomavirus' (HPV) di rumah sakit kesehatan ibu dan anak tingkat provinsi di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, pada 18 Mei 2020. (Xinhua/Xiong Qi)
Vaksinasi HPV merupakan salah satu prioritas nasional, mengingat tingginya beban kanker serta besarnya populasi di Indonesia.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia sedang memperdalam kerja sama dengan China untuk memperluas akses vaksin human papillomavirus (HPV) dan mempercepat pengembangan vaksin dalam negeri, kata Taruna Ikrar, kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.
Dalam wawancara dengan Xinhua baru-baru ini, Taruna menekankan bahwa vaksinasi HPV merupakan salah satu prioritas nasional, mengingat tingginya beban kanker serta besarnya populasi di negara ini.
"Indonesia memiliki hampir 300 juta penduduk dan lebih dari 17.000 pulau, yang menciptakan berbagai tantangan unik dalam menyediakan layanan kesehatan dan vaksin," ujar Taruna, seraya menyatakan imunisasi tetap menjadi pertahanan garis depan, dan vaksinasi HPV merupakan pilar utama dalam strategi untuk melindungi perempuan.
Kanker serviks masih menjadi masalah mendesak di Indonesia. Untuk memeranginya, BPOM telah mendorong penggunaan vaksin HPV 9-valen, yang menawarkan efektivitas lebih dari 90 persen dalam mencegah infeksi.
Untuk mempercepat ketersediaannya, Indonesia terus memperdalam kerja sama dengan China dan para mitra internasional lainnya melalui pertukaran teknologi dan berbagi pengetahuan praktis, kata Taruna, menyoroti bahwa kemitraan dengan perusahaan-perusahaan bioteknologi China telah berperan penting.
Berkolaborasi dengan para mitra dari China memungkinkan Indonesia untuk melewati fase mulai dari nol, jelas Taruna. Kemitraan ini tidak hanya menyediakan akses ke teknologi mutakhir, tetapi juga memperkuat kemampuan produksi vaksin Indonesia, katanya lebih lanjut.
Kerja sama tersebut juga meluas ke arah ekosistem bertingkat yang melibatkan kerja sama antarpemerintah, kemitraan antarbisnis, serta aliansi riset akademik, kata kepala BPOM tersebut.
"Saya selalu mengatakan kolaborasi lebih baik daripada kompetisi," ujar Taruna. "Jika kita berkolaborasi, semua pihak akan menang."
Menyebut bahwa Indonesia dan China telah menjalin hubungan yang "kuat" dan "panjang" sejak zaman dahulu, Taruna tetap optimistis tentang masa depan hubungan China-Indonesia di bidang kesehatan, mengatakan hal yang terpenting adalah "kita bisa menjadi kuat bersama."
"Saya percaya Indonesia dan China, dari pemerintah, institusi, universitas, maupun masyarakatnya, ibarat sebuah keluarga," katanya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Bandara Internasional Yogyakarta diharapkan melayani 20 juta penumpang
Indonesia
•
28 Aug 2020

Angkasa Pura I layani 3,49 juta penumpang pada Januari 2022
Indonesia
•
09 Feb 2022

Presiden percaya investigasi penembakan WNI di Malaysia transparan
Indonesia
•
02 Feb 2025

Jumlah penumpang kereta cepat Whoosh meningkat selama liburan sekolah
Indonesia
•
03 Jul 2024


Berita Terbaru

Menko AHY dorong Indonesia jadi ‘influential middle power’ di tengah gejolak global
Indonesia
•
13 Oct 2026

Medan dan Bandung masuk daftar kota dengan penurunan muka tanah parah di dunia
Indonesia
•
14 Oct 2026

Indonesia, Maroko, dan Belanda Perkuat Kolaborasi Kajian Islam dan Riset
Indonesia
•
14 Oct 2026

Seleksi penerimaan mahasiswa Al-Azhar diperkuat, tekankan aspek akhlak, akademik, bahasa
Indonesia
•
13 Oct 2026
