Indonesia luncurkan prototipe vaksin DBD Berbasis mRNA pertama di dunia

Foto yang bersumber dari Organisasi Riset Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation/CSIRO) pada 5 Oktober 2021 ini menunjukkan nyamuk Aedes aegypti. (Xinhua/CSIRO)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) meluncurkan prototipe vaksin demam berdarah dengue (DBD) berbasis mRNA pertama di dunia, di Jakarta pada Rabu (8/7).

Prototipe vaksin ini merupakan hasil kerja sama riset antara Universitas Indonesia (UI), Universitas Tsinghua China, dan PT. Etana Biotechnologies Indonesia.

"Jika berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang telah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam pernyataan resminya.

Inisiatif kerja sama riset tersebut telah dimulai sejak 2023 melalui pemanfaatan materi genetik (gen preM-E) galur (strain) virus dengue khas Indonesia.

Peluncuran prototipe ini dinilai sebagai tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional mengingat jika berhasil, produk tersebut akan menjadi vaksin penyakit demam berdarah berbasis mRNA pertama di dunia sekaligus antigen keenam yang mampu diproduksi Indonesia dari sektor hulu ke hilir.

"Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting, kita tidak menandatangani MoU dulu baru bekerja, namun justru mulai bekerja bersama secara sungguh-sungguh terlebih dahulu, baru MoU menyusul," tutur Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) RI Stella Christie yang turut menghadiri acara peluncuran tersebut.

Pemilihan vaksin dengue sebagai salah satu prioritas didasarkan pada tingginya angka kejadian kasus di Indonesia.

Data Kemenkes RI mencatat bahwa setiap tahunnya terdapat sekitar 151.000 kasus dengue dengan 650 kematian. Jumlah ini menempatkannya di antara penyakit dengan angka kematian tertinggi setelah TBC, HIV, dan malaria.

Selain riset vaksin dengue, UI dan Universitas Tsinghua sebelumnya juga telah menggelar pertemuan pada Oktober 2025 dan membahas rencana pembentukan laboratorium Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road) terkait vaksin dan genomik sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring riset global kedua negara di bidang bioteknologi, kecerdasan buatan, dan perangkat medis.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait